What It Feels Like to Run a Marathon

no Comment

Dua minggu lalu, jalan-jalan di pusat Jakarta dipenuhi dengan orang-orang yang lari marathon. Yup, ajang olahraga tahunan Jakarta Marathon kembali diadakan dan nggak sedikit teman saya yang ikutan.

Berhubung lari bukan pilihan olahraga nomor satu saya, saya selalu penasaran, apa sih rasanya lari marathon? Selain itu, tentunya kagum juga ya. Lari selama 6 jam kan bukan hal yang sama sekali bisa dianggap enteng. Saya yakin teman-teman pembaca ReeSays yang biasanya lari hanya 3 km atau buat pemanasan aja saat ke gym juga punya rasa penasaran yang sama. Untuk itu, saya ngobrol-ngobrol dengan teman saya Dolly Lesmana, Managing Director dari Arka Media, yang sudah beberapa kali ikut full marathon. Coba kita cari tau apa yang dirasakannya saat dulu ikut marathon untuk yang pertama kalinya!

Hai, Dolly. Sejak kapan serius lari dan kapan pertama kali ikutan full marathon?

Pada dasarnya, saya suka olahraga. Saya mulai lari sejak jaman kuliah, waktu itu kebetulan di Boston. Awalnya sih for fun aja. Di Indonesia tata kotanya nggak didesain untuk olahraga outdoor sih ya, jadi susah buat lari di jalan. Bisa sih di GBK, tapi fasilitasnya juga nggak memadai, misalnya nggak ada kamar mandi yang proper – sedangkan di luar negeri enak, udaranya bersih, ada pemandangan sungai, dan sebagainya.

Saya pertama kali ikut half marathon di Bali, tahun 2012. Lalu ikut full marathon pertama kali di Singapore tahun 2013.

Singapore 2013. My first full marathon ever!

Singapore 2013. My first full marathon ever!

Kenapa saat itu memutuskan untuk ikut full marathon?

Personal achievement. Untuk ikutan jenis race apapun, kan sebelumnya ada masa training. Nah, I really like the training moment. Ada up and down-nya. Kadang kita bisa perform oke, kadang kurang oke karena lagi capek. Yang ada kita pun jadi menghargai achievement-achievement kecil, misalnya hari ini kita bisa lari 15 menit lebih cepat, rasanya senang banget. Every achievement gives you self-confident. Akhirnya saya pun ikut full marathon yang saya tempuh dalam waktu 5 jam 35 menit, dan untuk marathon pertama, saya cukup puas.

Sampai saat ini, sudah berapa kali ikut full marathon?

Enam kali. Pertama kali di Singapore tahun 2013. Lalu ikut lagi di Bali. Saya juga ikutan marathon di Berlin bulan September lalu, dan sudah 3 kali ikut Jakarta Marathon. Berikutnya, saya akan ikut full marathon di Tokyo, bulan Februari tahun depan.

Jakarta Marathon, my third full marathon. I participated as a runner for a movement called Run For Charity, the official charity partner for the event.

Jakarta Marathon, my third full marathon. I participated as a runner for a movement called Run For Charity, the official charity partner for the event.

First major marathon in Berlin. Major di sini maksudnya adalah ajang marathon terbesar di dunia, terdiri dari 6 kota: Tokyo, Boston, London, Berlin, Chicago dan New York City.

First Major Marathon in Berlin. Major di sini maksudnya adalah ajang marathon terbesar di dunia, terdiri dari 6 kota: Tokyo, Boston, London, Berlin, Chicago dan New York City.

Pertanyaan berikutnya buat orang awam nih, yang biasanya lari for fun aja, seperti yang Dolly bilang di awal. Kita penasaran banget, rasanya lari berjam-jam tuh kayak apa, sih? Buat yang nggak pernah lari lama, ini kan tampak seperti hal yang impossible tapi ternyata possible. 😀

Haha, oke, seperti ini gambarannya, ya:

5 km pertama: Masih segar. Baru start. Lari juga masih segerombolan, jadi banyak teman. Udah gitu banyak supporter di sekitar garis start, jadi adrenalin masih pumped up. 

10 km: Ini juga masih biasa aja, karena kita kan udah biasa saat latihan. Untuk diketahui, saat latihan memang biasanya kita lari kombinasi jarak pendek dan jarak panjang. Saya sendiri saat training biasa lari 5-10 km di weekday, lalu weekend coba lari dengan jarak yang lebih panjang, misalnya 25 km.

20 km: Awal 20an mindset-nya, “Yes, udah setengah jalan” 😀 This gives you motivation. Secara fisik juga masih oke karena udah latihan tadi. Nah tapi di kilometer 27-30 biasanya kita mulai capek. Cuaca juga berpengaruh, sih. Misalnya waktu di Singapore udaranya lembab, humidity tinggi, jadinya lebih berat. Kalau di Jakarta, challenge-nya adalah panas, hehe. Lalu di kilometer 20an akhir kaki juga mulai kram. 

35 km: Secara fisik, kaki mulai tight dan bisa kram itu tadi. Itu pun kadang yang berasa satu kaki aja. Energi juga sudah terkuras. Tapi secara mental, kita kembali semangat. Ada “You know you can do it” mentality karena sudah berhasil lari jauh banget. Terus, menjelang garis finish juga supporter kembali banyak dan mereka kasih kita semangat. Apalagi di Jakarta Marathon, biasanya banyak teman dan keluarga, semangat kita jadi kembali terangkat.

Fantasis juga, ya. Kalau gitu, ada tips nggak buat pembaca ReeSays yang mau seriusin lari dan mau coba ikut race?

Pertama, join komunitas lari biar punya running buddies, mungkin ini tips yang paling penting. Berbagai komunitas lari juga sekarang punya coach lari jadi kita bisa tanya-tanya dan dapatkan berbagai informasi, baik dari coach maupun dari teman-teman seperjuangan. Kedua, training yang benar. Nggak perlu setiap hari sih karena otot akan overused dan bisa gampang injured. Ketiga, perhatikan intake nutrisi kita. Salah banget kalau yang disiapkan cuma dari luar aja. Dari dalam, apa yang kita makan, itu nggak kalah pentingnya. Banyak konsumsi protein, clean eating, dan sebagainya. Terakhir, ini ampuh menurut saya: DAFTAR. Iya. Karena dengan mendaftar ke acara marathon yang kita mau, kita jadi punya goal dan bisa bikin training plan. Apalagi sekarang sudah banyak app yang bisa membantu kita mempersiapkan race.

Wah, enlightening banget ya obrolannya. Buat yang mau coba ikut race lari, tips di atas bisa dicoba. O ya, Dolly juga masih mengumpulkan donasi untuk Yayasan Dunia Kasih Harapan, untuk membantu penderita kanker di Indonesia. Lihat flyer di bawah ini untuk informasinya. Thank you, Dolly!

img_1717

Leave a Reply