Tips Menginap Dengan Airbnb Untuk Newbie

no Comment

Buat yang hobi jalan-jalan, apalagi yang biasanya traveling on a budget atau suka dengan hal-hal yang sifatnya ‘lokal’, pasti setuju kalau salah satu inovasi paling seru yang ada di dunia traveling adalah Airbnb, ya kan?

Sejak diluncurkan pada tahun 2008, Airbnb memang perlahan tapi pasti meraih puncak kesuksesannya. Gimana engga, ide simple tapi brilian banget kan menyewakan kamar atau space kita untuk tempat menginap orang saat liburan? Nggak heran kalau sejak tahun 2012, Airbnb jadi salah satu app pendukung traveling yang paling populer di seluruh dunia.

Jujur, sebenarnya saya lebih sering menginap di hotel, tapi saya happy banget waktu diajak salah satu sahabat saya, Ricky Suhendar atau yang akrab dipanggil Suhe, untuk mencoba Airbnb saat traveling ke Eropa akhir tahun lalu. Benar-benar pengalaman yang berbeda.

Pengalaman tinggal di rumah Airbnb di Salerno, Italia, bersama Suhe. Ini foto sama host-nya yang baik banget nganterin kita ke taxi.

Pengalaman tinggal di rumah Airbnb di Salerno, Italia, bersama Suhe. Ini foto sama host-nya yang baik banget nganterin kita ke taxi.

Buat yang sudah sering pakai Airbnb, pasti udah tau sendiri asiknya pengalaman homestay ini, tapi buat yang sampai sekarang belum nyoba dan penasaran, simak obrolan saya dengan Suhe yang sudah memakai jasa Airbnb puluhan kali ini. (Serius!)

Suhe, sejak kapan sih pakai Airbnb buat traveling?

Saya pertama kali mencoba Airbnb pada tahun 2013 saat pergi ke Amsterdam. Saya tinggal di sana 3 malam. Sejak saat itu, saya pakai Airbnb terus deh kalau traveling pribadi (bukan business trip dari kantor) karena buat saya menyenangkan banget.

Apa kelebihan Airbnb dibanding hotel?

Pertama, sudah pasti harga. Biasanya rate Airbnb lebih murah daripada hotel. Kalaupun harganya nggak jauh dari hotel, fasilitas yang kita dapat lebih banyak dan ruang gerak kita juga lebih leluasa. Misalnya, areanya lebih luas, ada living room, TV, di beberapa tempat juga ada balkon. Kalau saya pribadi biasanya lebih memilih Airbnb kalau harganya setengahnya dari hotel. At least 1/3-nya, deh.

Kedua, karena saya sering traveling sendiri, seru kalau menginap di tempat yang ada host-nya karena saya bisa berinteraksi dan bisa bertanya tips-tips yang hanya orang lokal yang tau. Nah, tips yang personal preference seperti ini kan biasanya nggak kita dapatkan dari resepsionis hotel. Saya juga jadi berteman di Facebook sama beberapa host, salah satunya host yang di Salerno itu (foto di atas).

Asik bisa duduk santai di living room sambil main gitar. Airbnb di Oslo, Norwegia, Juli 2016.

Asik bisa duduk santai di living room sambil main gitar. Airbnb di Oslo, Norwegia, Juli 2016.

Di Glasgow, Scotland. Lucu ya rumahnya. Disediain sarapan pula.

Di Glasgow, Scotland. Lucu ya rumahnya. Disediain sarapan pula.

Christmas mood. Airbnb di Sarajevo, Bosnia, Desember tahun lalu.

Christmas mood. Airbnb di Sarajevo, Bosnia, Desember tahun lalu.

Airbnb di Cartagena, Colombia, di malam tahun baru 2015.

Airbnb di Cartagena, Colombia, di malam tahun baru 2015.

Tapi pasti ada kekurangannya, kan?

Kekurangannya sih lebih ke deg-degan kalau tiba-tiba host-nya membatalkan karena ini kan seperti bisnis pribadi ya, jadi kita berurusan dengan perorangan, bukan perusahaan (meski tentu semuanya difasilitasi oleh Airbnb). Tapi saya nggak selalu kuatir. Biasanya deg-degan kalau perginya jauh aja dan saya nggak punya nomor lokal, jadi ribet kalau tiba-tiba nggak ada tempat tinggal. Meski so far pengalaman saya di-cancel terjadi saat saya belum pergi, sih. Contohnya waktu itu saya mau ke Hakodate, Jepang, dan host-nya membatalkan seminggu sebelum berangkat. Itu sempat bikin ribet karena waktu itu susah cari Airbnb lain yang available dengan kisaran harga yang sama. Tapi at least untuk pelipur lara Airbnb kasih kita bonus $15 kalau ada cancelation begini. Jadi misalnya rate menginap per malam adalah $100, Airbnb bolehin kita booking tempat yang seharga $115.

Ada tips nggak buat teman-teman yang belum pernah pakai Airbnb tapi tertarik untuk nyoba?

Pertama, pilih yang review-nya bagus tentunya. Hari gini milih restoran aja kita baca review dulu, apalagi milih tempat menginap, ya nggak?

Kedua, pilih yang kamar atau space-nya disewakan oleh orang secara personal, dalam artian itu memang kamar atau rumah si host dan bukan disewakan oleh seorang pengusaha penyedia kamar, karena ada juga loh yang ternyata tempatnya semacam kos-kosan gitu. Ada banyak kamar dan ada cleaning crew-nya. Nah kalau kayak gini, ‘pengalaman Airbnb’-nya jadi hilang. Nggak ada personal touch, boro-boro mau ngobrol minta tips spot-spot seru.

Ketiga, kalau tempatnya menyewakan beberapa kamar, pilih yang kamar mandinya nggak sharing. Ini personal preference sih. Soalnya bisa jadi ribet kalau kita ada rencana jalan-jalan dan mau siap-siap, eh ternyata kamar mandinya lagi dipakai orang.

Selain jadi guest, yang saya tau Suhe jadi host juga ya?

Betul. Di Airbnb kita itu bisa jadi guest dan/atau jadi host, alias jadi orang yang menyewa kamar/space alias tamu, dan bisa juga jadi orang yang menyewakan kamarnya. Meski saya sudah sering jadi guest sejak tahun 2013, akhirnya baru di tahun 2015 saya memutuskan untuk juga menjadi host, tepatnya setelah saya punya apartemen yang kedua. Lumayan, sambil nunggu penyewa yang lebih lama.

 

Tuh, seru banget, kan? Boleh banget nih coba Airbnb buat liburan kamu berikutnya!

Leave a Reply