Social Media: Good vs Evil

no Comment

socmed 2

Nggak banyak yang tau kalau mulai tahun lalu, tanggal 10 Juni dicanangkan sebagai Hari Media Sosial di Indonesia. Wajar sih sebenarnya kalau ada hari khusus untuk ini, berhubung media sosial sudah cukup lama menjadi bagian dari hidup kita* dan selalu kita akses dari pagi sampai malam (we start and end our days with them). Karena itu, sudah bisa sepertinya ya media yang satu ini kita review baik vs buruknya.

GOOD:

1. Dapat info terkini

Berita apapun, termasuk yang bersifat breaking news, sekarang bisa kita baca duluan di Twitter dan diikuti oleh media sosial lainnya seperti Path atau Facebook, sebelum ada di TV atau radio.

2. Punya teman-teman baru

Baik se-passion, atau simply yang cocok aja, bisa kita temui di media sosial. Selain itu, kita juga bisa merasa dekat dengan idola, mulai dari yang public figure sampai orang biasa yang menginspirasi. Mulai dari cara berpakaian, cara menata rumah , cara makeup, sampai hal-hal lain di kehidupan kehidupan sehari-hari.

3. Bisa bangun personal brand atau bahkan brand untuk bisnis

Suka traveling? Post content tentang pengalaman jalan-jalan terbaru. Suka fotografi? Rajin-rajinlah post foto-foto ciamik hasil karya sendiri. Dengan begini, personal branding kita akan terbangun, dalam artian orang-orang tau hal-hal yang ‘kita’ banget. Siapa tau bisa menghasilkan, kan? Ini cikal-bakal fenomena influencer yang sering kita lihat, yang sekali post harganya bisa Rp 1 juta. Kalau sehari 5x, sudah dapat 5 juta. Kalau sebulan? Kali aja sendiri, yaaa.

4. Cara marketing paling murah

Jaman dulu kita harus print flyer untuk promosi barang jualan. Sejak ada media sosial, berbagai cara bisa kita lakukan di medium ini. Mulai dengan ganti profile picture di BB, post di Facebook dan yang terakhir yaitu dengan post di Instagram. Media sosial yang tadinya cuma buat silaturahmi sama teman SD, SMP, SMA dan kuliah bisa jadi ajang promosi. Seru, ya!

5. Jadi punya banyak referensi

Mulai dari traveling, fashion, makeup, makanan dan masih banyak lagi.

Kalau kita lihat iklan kan kadang kita suka nggak percaya sama apa yang disampaikan tuh. “Ah, itu kan iklan”, kita pikir. Tapi dengan adanya budaya berbagi di media sosial, kita lebih bisa percaya karena yang share sedang ada di situ dan foto diambil oleh orang biasa. Bukan sekedar foto cantik hasil jepretan photographer terkenal.

EVIL:

1. We share too much

Berantem sama pasangan nge-tweet, dimarahin bos di-post di Facebook. Orang jadi lupa batas antara yang private sama yang public. Singkatnya, jadi BAPER. Jaman dulu kita kalo ngeluh ya di diary, yang baca ya kita sendiri. Jaman sekarang ada masalah dikit langsung bikin pengumaman dan minta perhatian ke seluruh dunia. Jadi cengeng nggak, sih ?

2. Attention span kita jadi rendah

Ini karena hal-hal yang biasa kita lihat, post-post itu, biasanya pendek-pendek. Ada foto/videonya pula. Jadi makin banyak orang yang nggak terbiasa lagi baca buku karena tulisannya panjang dan jarang ada gambarnya. Denger orang ngomong lama juga kita mulai males. Yang ada, saat diajak ngobrol, kita jadi lebih sering lihat gadget dari pada orang yang bicara. :(

3. Sering dipakai untuk ajang nyebarin hoax dan memprovokasi orang

Dan masih banyak aja orang yang langsung percaya tanpa cross check ke sumbernya dulu. Apalagi urusan SARA, wah cepat banget. Banyak juga yang sengaja dibuat hanya sekedar untuk dapat banyak like, comment, atau biar bisa viral, jadi dibela-belain bikin berita yang bombastis. Nggak banget, deh!

4. Membenarkan sifat pamer

If we really want to be honest, showing off is not a good thing, dari kecil kan udah diajarin :) Secara psikologi, orang yang pamer biasanya adalah orang yang butuh pengakuan. Jadi sebenarnya ujung-ujungnya harus bertanya pada diri sendiri: Kenapa saya selalu ingin nge-post foto tas terbaru? Kenapa saya mau orang tau kalau liburan saya mewah? Dan sebagainya. Pamer adalah cara kita untuk mengkompensasi sesuatu yang kurang dalam hidup. Coba deh direnungkan sejenak :)  Yang lucu, pamer ini terbagi atas 2 jenis: Pamer dengan cara yang halus dan pamer dengan cara yang norak, hihi.

5. Bikin in-person communication jadi jauh berkurang

Kenapa? Karena kita merasa udah ‘ketemu’ sama orang itu dengan baca curhatan dan cerita-ceritanya lewat layar smartphone kita. Yang lebih parah, kita merasa kenal cuma karena kita follow dia dan comment kita pernah dibalas sekali, Padahal kalau ketemu di dunia nyata, dianya belum tentu kenal, loh.

Gimana, dari Good vs Evil di atas, yang mana yang paling relevan dengan hidupmu? :)

 

*Facebook berdiri sejak 2004 dan ngetop di Indonesia mulai dari 2004; Twitter mulai ramai dipakai di sini tahun 2006, sedangkan Instagram dan Path sejak 2010.

Leave a Reply