Seri Jodoh Gak Kemana : LHJ Fairytale

no Comment

Sesuai dengan janji saya bahwa saya akan mengangkat cerita cinta yang berhasil karena dunia maya, nah cerita sahabat saya ini Amalia bisa jadi penyemangat buat kamu yang sekarang masih menantikan soulmate.

________________________________________________________________________________

Midnight in Tokyo.

a ‘50 km radius setting’ message is coming.

HJ: “Are you really live in Indonesia?”

Lia: “Yes, I am but I’m in Tokyo now”

HJ: “That is far away from Netherlands”

Lia: “How come you’re in my reach? It’s impossible”

HJ: “I really don’t know”

 

Percakapan di bulan Mei 2014 ini terjadi di app dating Tinder. Iya, Tinder yang kata orang hanya buat iseng. Betul banget karena pada saat itu lagi hits dan dengan alasana bekerja di industi digital saya harus catch up dengan trend ini sebagai single cerai 10 tahun.

Singkat cerita saya main beberapa bulan dan gak berani dating kopdar beneran (jago kandang) lucu-lucuan sama teman-teman setiap main.

Sampai suatu saat terjadi eror lokasi yang menghubungkan saya dengan pria Belanda yang harusnya dia berada juga di Tokyo seperti saya tetapi dia ternyata di rumahnya di Groningen, utara Belanda. Settingan saya radius 50 km jadi ngga mungkin kami terkoneksi.

I am expecting a Japanese man or at least tourist in Tokyo and he was expecting at least a German woman.

Anyway akhirnya kami sepakat “why not” nambah teman. Jujur dia itu salah satu yang paling membosankan karena saya mengharapkan rayuan-rayuan gombal tetapi yang saya dapat adalah “Sudah makan?” “Di Jakarta suhu berapa sekarang?” (which is now I know that’s very Dutch nanya-nanya suhu)

Percakapan berlangsung on dan off, dan kadang intens sampai pada suatu saat iPhone saya hang dan kami tidak bisa terkoneksi. Disitu kami sadar kami mulai tergantung satu sama lain. Buat saya ngeri. Kenapa? Tentu saja perbedaan agama dan kultur.

Setelah sadar dan berdiskusi kami sepakat bahwa syarat terpenting dari dan bagi masing-masing adalah Agama dari saya dan stay di Groningen dari dia harus dipenuhi. Deal sebelum kopi darat. What’s next? We have to meet. Saya bilang “as much as I want and there’s reason to go to Europe but I think he has to come here first as gentlemen”

Dan kagetnya adalah setelah 2 minggu di bulan September 2014 dia bilang akan datang 2 minggu lagi dan stay selama seminggu di Indonesia. “Show me top 10 of your life” langsung panic attack dan Rapat BFF Luar Biasa. “OMG He is coming!!”

He travels 15.000 away for something he really curios which is me. Don’t know what to expect and what to do of everything don’t work out.

Long story short. We meet.

Spent a week in Indonesia to get to know each other. Ketemu teman dekat, kantor dan keluarga dekat yang penting ketemu anak saya. Alhamdulillah dia cocok-cocok saja.

It was a beautiful and full of impression one week. Berat banget waktu mau pisah dan akhirnya disambung dengan saya dan anak saya mengunjungi Groningen. Yang penting untuk saya adalah: Bisa ngga saya tinggal disana? Hidup saya cukup ngga disana? Anak saya aman ngga disana? Jujur sebagai single mom 10 tahun , usia 43 pada saat itu saya merasa kehidupan saya di Jakarta sudah cukup dan mapan. I won’t go and start all over again just for the sake living in Europe and love, no way!

Intinya pertemuan itu penting untuk cek dan ricek semuanya. Love is important but be rational and realistic also important, at the end it’s your life too.

Trip kami yang pertama ke Belanda.

Kami cocok, keluarga cocok, kehidupan cocok, anak-anak setuju, agama seiman dan akhirnya kami memutuskan untuk menikah. Begitu banyak persiapan dari perpindahan saya, prosedur menikah, prosedur pindah tempat tinggal yang kalau dilihat listnya bisa pusing kepala. Tapi magic word pada saat itu adalah prioritas dan one step at a time. Satu-satu dijalani dari les bahasa belanda setiap sabtu pagi jam 8 (gokil deh ini, sabtu gitu loh), tes-tes untuk mendapatkan ijin tinggal di Belanda, terjemahan surat-surat untuk prosedur pernikahan dan pindah.

Akhirnya pada 2 Agustus 2015, 11 bulan dari pertemuan pertama kami, kami menikah secara islam di Jakarta dihadiri semua keluarga dan teman terdekat. One of the beautiful day in our life. Video Wedding kami:  https://youtu.be/DqlrZ8SZUFc

It as magical.

Setelah itu ada beberapa step untuk kepindahan saya ke Belanda terutama masih menunggu visa ijin tinggal yang untungnya hanya 2 bulan setelah itu saya bisa ke Belanda.

Pindah ke Belanda di usia 44 tahun, dengan anak saya yang pada saat itu usia 16 tahun masih di Jakarta menyelesaikan studi, meninggalkan pekerjaan, teman-teman, keluarga  tentu saja keputusan yang sangat besar dan beresiko. But what do you find in life when you reach 40’s? Anak mulai dewasa, pengalaman berkarir cukup, entrepreneurship bisa dipraktekan di mana saja.

Alhamdulillah so far so good. Hampir 2.5 tahun tinggal disini saya sekarang malah ada waktu untuk menjadi relawan, bekerja freelance, kursus sana sini menambah wawasan, masak untuk keluarga dan semua kegiatan stop di jam 6 sore disini. Such a sloooooow lie compare to Jakarta.

Ya kadang saya rindu kehidupan cosmopolitan seperti supir, embak di rumah, gojek, go food, go massage dan fasilitas-fasilitas Jakarta tapi kalo rajin nabung bisa kok sering pulang karena tiket pesawat dari sini lebih murah.

Makanan dan pergaulan pun tidak masalah karena Belanda memang home away from home untuk orang Indonesia.

That was still a magical and fairytale journey for me and my husband. Sampai sekarang kita masih sering wondering “ How can we meet that way?” Percaya bahwa jodoh ada di tangan Tuhan, dan datang bisa lewat mana saja dan di kami lewat Tinder yang eror 🙂

My Family

 

Leave a Reply