Seri Anak Rantau: Fajri De Candra – Sukses Gapai Mimpi Dari Pekanbaru Sampai Belanda

no Comment

Kalau sebelumnya saya sudah cerita kisah saya merantau ke Bali untuk pekerjaan yang lebih baik, dan minggu lalu kita sudah membaca cerita Rian Ibram, teman saya yang pindah dari Bandung ke Jakarta untuk menggapai mimpi menjadi seorang MC, presenter dan penyiar radio, minggu ini saya mengangkat pengalaman hidup Fajri De Candra (akrab dipanggil Ade), seorang sahabat lama yang menurut saya sangat menginspirasi. Cerita ini memperlihatkan bahwa ketekunan dan kerja keras pada akhirnya akan membuahkan hasil dan bisa membawa kita ke taraf hidup yang lebih baik. Yuk, langsung kenalan sama Ade.

Halo, nama saya Ade. Di awal, mungkin saya ceritakan dulu dari mana asal muasal saya, ya. Orangtua saya berasal dari Tanah Datar di Sumatera Barat. Saya sendiri lahir di Pekanbaru dan tinggal di kota ini hingga menyelesaikan pendidikan S1. Saya dibesarkan dari kehidupan keluarga yang pas-pasan. Ibu saya adalah seorang guru dan bapak pegawai negeri. Jujur, dulu saya suka iri melihat teman sekolah yang mampu berlibur dengan pesawat terbang. Hingga akhirnya saat kuliah, saya mendengar cita-cita teman-teman yang ingin meneruskan pendidikan di luar negeri. So I put that as the first thing on my dream book. Saya ingin menjadi seperti mereka.

Saya pun bekerja keras agar bisa menjadi pelajar unggul dan menggali kemampuan ekstra untuk menutupi kekurangan ekonomi orangtua. Saya bersekolah dengan sungguh-sungguh. Ini juga saya lakukan untuk membanggakan orantua. Lucky me, kerja keras sendiri ini bisa menempatkan saya di sekolah favorit di Pekanbaru dengan mudah. Saya juga tekun mempelajari bahasa Inggris secara otodidak karena berkeyakinan bahwa Inggris akan menjadi bekal bahasa saat suatu hari saya melihat dunia luar. Ketika di atas saya menyebutkan dream book, itu beneran loh. Saya memang punya buku mimpi yang saya isi dengan gambar gambar pemandangan kota-kota dunia yang saya dapatkan dengan menggunting dari kalender dinding. Selain belajar, saya juga mulai bekerja sebagai asisten seorang wanita pengusaha sukses di Pekanbaru. Semuanya saya kerjakan, mulai dari menjadi supir, mengurus jadwal beliau, membuatkan naskah pidato, sampai ikut mengurusi bisnisnya. Hingga satu saat saya berhasil mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Jepang pada tahun 1991. Dunia luar pertama. Ini dia awal mula mimpi saya. 

Portrait Management, salah satu pekerjaan Ade di Pekanbaru.

Portrait Management, salah satu pekerjaan Ade di Pekanbaru. 

Setelah menyelesaikan kuliah, pekerjaan pertama saya adalah bekerja untuk satu perusahaan konsultan hotel di Singapore. Lalu, lanjut menjadi Personal Assistant dari seorang maestro rambut di Indonesia yang memiliki ratusan outlet salon, sekolah rambut dan make up, hair cosmetic line, bridal dan juga properti. Dari sini, saya diajak bergabung di satu perusahaan kosmetik terbesar di dunia dari Perancis. Another master degree buat saya tanpa bangku kuliah. 

Dari sana, berkat kerja keras dan nasib baik, saya mendapat tawaran bekerja di Amsterdam, Belanda. Ini adalah lengkah yang besar karena kunjungan ke luar negeri kali ini bersifat tinggal permanen, bukan layaknya perjalanan bisnis yang sudah mulai terbiasa saya lakukan. Tapi tinggal di negara lain dengan budaya yang sangat berbeda dan bahasa yang saya tidak kuasai, justru buat hidup lebih semangat. Tantangan ini harus bisa saya peluk. Saya menolak menjadikan beban dan beratnya bekerja sebagai alasan untuk berkeluh kesah. Saat itu, prioritas saya adalah mampu berbahasa setempat agar saya bisa sukses dan bisa terus menjadi tulang punggung keluarga. Bicara soal tantangan, ada pengalaman pahit yang sempat saya alami selama tinggal sana, yang belum tentu dialami banyak orang. Saya sempat menyaksikan dengan mata kepala sendiri peristiwa tragis pertikaian antar geng drug dealer di mana 3 orang meninggal di tempat karena ditembak oleh pembunuh bayaran. Selain itu, saya juga sempat merasa tidak cocok dengan tempat bekerja di Amsterdam setelah hampir setahun mencoba. Akhirnya saya berhenti bekerja dan memutuskan untuk menggelandang menyusuri banyak kota di Eropa yang dulunya hanya menghias buku mimpi saya. God is Good. Tuhan membantu saya recover dari trauma. Saya sangat bersyukur Tuhan menjaga keselamatan saya. 

Fast forward beberapa tahun kemudian, saya kemudian menjalankan beberapa unit usaha. Di Amsterdam, saya punya hotel kecil yang dijalankan dengan sungguh-sungguh hingga mampu bertahan dengan tingkat hunian 97% dan review di atas 9 setiap tahunnya. Hingga saat ini, saya bekerja paruh waktu si sebuah diamond factory di Amsterdam yang dinobatkan sebagai the best family company di Belanda.

Bersama rekan kerja di Gassan Diamond Amsterdam. Foto diambil pada tahun 2012.

Bersama rekan kerja di Gassan Diamond Amsterdam. Foto diambil pada tahun 2012. 

Saya juga menjalani satu bidang usaha perjalanan wisata custom made yang membantu orang-orang yang ingin bepergian ke luar negeri sesuai dengan impian dan waktu yang mereka miliki. High-end traveller, biasanya. Klien-klien saya pun sangat beragam, mulai dari keluarga-keluarga hebat, tokoh terkemuka, selebriti sampai pejabat tinggi negara.

Menjadi Tour Leader untuk klien VIP – Hijau Travel & Tours

Menjadi Tour Leader untuk klien VIP – Hijau Travel & Tours 

Selain itu, sekarang saya juga bekerja di Jakarta sebagai co-partner perusahaan garmen yang telah lama eksis di wholesale dan sedang merambah ke dunia e-commerce. Indonesia luar biasa potensinya.  

My latest adventure, the fashion industry.

My latest adventure, the fashion industry.

Traveling the world. Enjoying life.

Traveling the world. Enjoying life. 

Dari cerita perjalanan saya sejauh ini, beberapa hal kunci menurut saya adalah bekerja di luar negeri menuntut kita untuk bisa beradaptasi cepat, dalam hal ini penguasaan bahasa, karena bahasa adalah dasar budaya setempat. Selain itu, tentu kita akan lebih mandiri karena harus mampu me-manage diri sendiri dalam segala hal. Saya juga percaya bahwa kebebasan yang bertanggung jawab akan mampu membuat kita “besar”. Budaya Indonesia yang kita bawa sejak lahir jika dicampur dengan baik dengan budaya setempat, di mana pun berada, akan membuat kita mempunyai pesona yang berbeda. Percaya, deh. Ini yang harus jadi selling point untuk bisa sukses dalam bekerja dan berkehidupan di luar negeri sana. 

Leave a Reply