#RI70: Perempuan Indonesia Bicara Kemerdekaan

no Comment

Empat hari menjelang perayaan paling penting di negeri ini. Di hari jadi Indonesia yang ke-70 ini, sudah banyak progress yang kita rasakan di berbagai bidang. Kebebasan berekspresi, kebebasan mengejar mimpi, juga yang nggak kalah penting adalah kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Bila dibandingkan dengan jaman Kartini lebih dari seabad yang lalu, perempuan Indonesia kini telah melalui berbagai perjuangan mendapatkan hak yang paling hakiki. Setidaknya itu yang saya rasakan secara pribadi – dan hal yang sama yang dialami oleh para perempuan ini. Apa saja kemerdekaan yang mereka menangkan?

Ucita Pohan

Ucita

Sebagai salah satu fashion dan beauty enthusiast yang paling fun yang saya kenal, Ucita sudah memperlihatkan ciri khas dan kepribadiannya sejak menjadi penyiar radio beberapa tahun silam. Kemerdekaan baginya adalah adanya kesempatan untuk melakukan dan menyampaikan hal (yang positif) yang disuka, tanpa tekanan dari pihak lain. Ini termasuk kebebasan memilih berbagai hal yag kita inginkan dengan hati dan kebebasan untuk mengambil keputusan tanpa paksaan.

“Dalam bekerja, saya bebas menentukan jadwal, memilih project yang ingin dikerjakan, menentukan deadline pekerjaan dan bebas memilih waktu liburan,” tambah Ucita. Basically, ia merasa bebas mengatur hidupnya sendiri. Sounds like a privilege? It takes courage to leave your comfort zone but it doesn’t mean you can’t do it!

 

Deasy Hapsari

Deasy

Bisa sekolah bahasa di Korea sementara punya keluarga di Indonesia, inilah yang membuat saya kagum pada sosoknya. Deasy Hapsari, teman dekat saya, adalah salah satu perempuan Indonesia yang berani mengejar impiannya. Baginya, kemerdekaan adalah bisa terus mencari ilmu dan berguna bagi masyarakat sekitar. Pasangan Deasy pun mendukung istrinya untuk terus berkarya. “Kemerdekaan yang saya dapat sebagai seorang istri dan ibu saat ini adalah wujud dari kebebasan yang bertanggung jawab,” ungkapnya.

Kecintaannya pada budaya Korea yang dimulai sejak 8 tahun yang lalu membuatnya ingin mempelajari bahasanya. Tahun 2012 sampai 2014, ia pun terdaftar sebagai murid di sebuah lembaga bahasa di salah satu universitas negeri di Seoul dan mulai bolak-balik Seoul-Jakarta untuk sekolah dan secara rutin menengok keluarganya.

Saat ini, Deasy mengaplikasikan ilmu yang dipelajarinya dengan menjadi private tutor untuk bahasa Korea-Indonesia dan sebaliknya, sambil tetap mengambil kelas bahasa Korea untuk terus mengasah ilmu yang ada. Keren yaa!

 

Amalla Vesta
Vesta pic

Vesta, sahabat dan salah satu model BelowCepek.com ini lebih dikenal sebagai tukang jalan-jalan (check out @SwankyTraveler dan @LiburanLokal on Twitter). Yang kadang membuat saya bengong, Vesta yang bisa traveling keluar kota atau keluar negeri beberapa kali dalam sebulan ini adalah ibu dari 2 anak. Gimana ngatur waktu dan dapatin ijinnyaaa? Ini penjelasannya.

Merdeka baginya berarti bebas dari rasa takut dan tekanan. Contohnya, ia bisa solo traveling ke banyak tempat tanpa harus merasa khawatir dan bisa membuat keputusan untuk diri sendiri tanpa adanya pengaruh atau tekanan dari pihak lain.

“Kebebasan untuk bisa traveling sendiri dan dengan frekuensi yang cukup sering adalah bentuk kepercayaan dari suami. Ini sesuatu yang saya sadar nggak semua perempuan atau istri bisa beruntung mendapatkannya,” kata Vesta. Dengan dukungan ini, ia merasa bebas dari rasa khawatir atau takut karena dirinya percaya sang suami bisa menjaga anak-anak saat ia sedang menjelajah dunia.

Nggak hanya itu. “Di luar traveling, kesukaan saya lainnya adalah belanja, dan suami hampir nggak pernah melarang saya membeli item-item fashion, no matter how silly the reason is.” Nggak cuma soal lucky, ini juga tandanya sebagai perempuan Vesta pintar dalam memilih suami. Setuju? 😀

Leave a Reply