Perokok Pasif di Indonesia: Perjuangan Hak Tanpa Henti

2 Comments

childsmoking2

Tiga hari lagi, 31 Mei, kita memperingati World No Tobacco Day atau Hari Tanpa Tembakau Sedunia – dan hari ini selalu membawa saya kembali ke 20 tahun yang lalu ketika ayah saya meninggal dunia akibat kanker pada usia 44 tahun.

Ayah saya adalah seorang perokok berat, meski ia tidak pernah merokok di dalam rumah dan ini sangat saya hargai. Dengan begitu, saya jadi punya kesadaran bahwa orangtua tidak seharusnya merokok dekat anak sejak masih sangat muda. Hal ini menjadi sangat penting buat saya, maka saya merasa gemas luar biasa ketika di masa sekarang, lebih dari 30 tahun kemudian, masih sangat banyak orangtua yang merokok dekat anak atau duduk di area smoking di restoran hits di ibukota, sambil membawa anaknya hanya supaya ia bisa merokok. I’m sorry, but I think some people don’t deserve to have kids.

“Merokok itu urusan pribadi”, tentu saya paham dengan hal ini. Saya sadar merokok adalah hak dan saya nggak meminta semua orang berhenti merokok. Tapi yang juga harus dipahami adalah kesadaran dari perokok untuk tidak membuat kita yang tidak merokok ikut terkena asapnya.

“Semua orang pasti mati kok, merokok atau tidak” – satu lagi argumen (cemen) yang sering kita dengar. Agak aneh sih mengira saya nggak punya pengetahuan ini. :) Tapi saya memilih untuk tidak merokok dan berusaha hidup sehat supaya tidak meninggal muda seperti ayah saya. Itu aja.

Tapi sepertinya susah.

Kebanyakan tempat umum, seperti restoran atau tempat hang out, lebih mementingkan area smoking dibanding yang tidak. Seakan-akan kita yang tidak merokok tidak bisa spend uang sebanyak orang-orang yang merokok. Akibatnya, nggak sedikit tempat yang membuat area non-smoking kecil, diletakkan di ujung ruangan dan tanpa view. Seolah-olah non-smoker adalah kaum nggak penting, rese dan nggak pantas mendapat treatment yang at least sejajar.

Bicara soal area non-smoking juga ajaib. Biasanya tidak ada batas yang berarti antara ruangan smoking dan non-smoking di restoran, seakan-akan asap rokok bisa berhenti tertib di garis batas ruangan. Berhubung asap tidak mengerti aturan dan tidak bisa membaca papan peringatan, maka ia pun tetap dengan bebas kita hirup.

Padahal Perda no. 2/2005 tentang Pengendalian Polusi Udara Perkotaan dan Pergub no. 75/2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok sudah mengatur jelas tentang ini. Di Pasal 13 disebutkan:

(1) Tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja dan tempat yang secara spesifik sebagai tempat proses belajar mengajar, arena kegiatan anak, tempat ibadah dan angkutan umum dinyatakan sebagai kawasan dilarang merokok.
(2) Pimpinan atau penanggungjawab tempat umum dan tempat kerja harus menyediakan tempat khusus untuk merokok serta menyediakan alat penghisap udara sehingga tidak mengganggu kesehatan bagi yang tidak merokok.

Hellow, restaurants!

Ketidakadilan makin tebal saya rasakan ketika saya baru kembali dari Jepang, negara yang sangat bersih dan bahkan bebas dari puntung rokok bertebaran di jalan. Negara dimana pemerintah pro kesehatan masyarakat dan menerapkan aturan yang ketat. Maka pemandangan orang merokok sambil jalan dan akhirnya membuang puntungnya ke jalan seolah dunia ini adalah asbak raksasa tidak akan kita jumpai.

Kapan ya Indonesia bisa begini?

Bayangkan saja, jumlah perokok aktif di Indonesia merupakan terbanyak ketiga di dunia setelah Cina dan India, yaitu sebanyak 61,4 juta jiwa dengan 2 dari setiap 3 pria merokok. Jumlah penduduk Indonesia yang tidak merokok namun terpapar asap rokok orang lain? 97 juta orang! Bayangkan. Jumlah anak-anak yang terpapar asap rokok pun sangat memprihatinkan, 43 juta anak, dengan 11,4 juta di antaranya berusia 0-4 tahun. Kalau bukan tega, apa namanya?

Dengan lobi perusahaan rokok yang begitu kuat terhadap pemerintah (shame on you!), saya cuma bisa berharap di usia tua nanti masih bisa menyaksikan kesehatan anak bangsa menjadi prioritas di negeri ini.

Bantu bangun kesadaran pentingnya udara yang bebas asap rokok, salah satunya dengan mendukung Project Jernih. Klik kanan dan pilih ‘Save As Image’ dan promosikan e-poster ini di kanal media sosialmu.

Project Jernih

Comments

  1. Honey Josep
    Honey Josep | Posted on June 5, 2015 at 1:26 pm

    setuju! selalu sebal dengan orang merokok yang gak liat sekelilingnya :(

Leave a Reply