Perbedaan Budaya Indonesia vs Amerika

7 Comments

waiter

Modernitas di Indonesia semakin lama semakin kuat kita rasakan. Nggak hanya dalam hal hiburan dan teknologi aja, hal-hal intangible seperti gaya hidup dan cara berpikir dan keefisienan kita dalam bekerja pun semakin lama semakin blend in dengan kebiasaan belahan dunia lain. Is this a bad thing? Nggak juga. Bila kita melipir sebentar dari perdebatan tradisi yang semakin luntur, misalnya, ada banyak manfaat yang kita peroleh dari pergeseran ini. Salah satunya adalah kita jadi lebih terbuka dan open minded terhadap ide-ide baru dan perbedaan.

Bagi sebagian orang, kita mulai kebarat-baratan, namun kalau diteliti benar, nggak sedikit perbedaan budaya yang masih kental yang memisahkan kita dari warga dunia barat. Budaya di sini maksudnya bukan kesenian atau tari-tarian, melainkan soal value yang berujung pada penghargaan kita terhadap orang lain. Ambil contoh perbedaan budaya Indonesia dengan Amerika. Apa saja yang jelas kentara?

 

Waiter bukan pekerjaan bawahan

Di Indonesia: Terserah mau ngaku atau enggak, tapi seringkali, kalau mau jujur, kita menganggap waiter atau pelayan restoran kelasnya ada di bawah kita yang bekerja di kantor, mungkin di gedung yang tinggi, dengan klien-klien internasional. Dalam hati seringkali kita menganggap waiter nggak beda dengan asisten rumah tangga yang bisa kita suruh mengerjakan apa saja demi kepuasan hati merasa dilayani.

Di Amerika: Adalah keterlaluan bila memperlakukan waiter tidak ‘selevel’ dengan kita. Pertama, kita nggak semestinya memanggil waiter di resto karena akan dianggap rude. Kedua, kalau ingin melihat menu, kita harus menunggu dan waiter akan datang ke meja kita. Begitu juga saat ingin memesan makanan dan mendapatkan bill. Memang ini ada hubungannya dengan customer service mereka yang baik. Setiap meja punya satu waiter yang didedikasikan untuknya dan mereka akan sangat attentive dan menanyakan apa kita membutuhkan tambahan sesuatu setiap 5-10 menit. Intinya lupakan perasaan superior bahwa mereka adalah pelayan kita. Di Amerika dan di banyak negara di Eropa (atau di negara-negara Barat), waiter adalah orang yang akan membantu kita mendapatkan makanan atau minuman dan seperti kita memperlakukan sesama manusia, mereka berhak atas respect dari kita.

 

Pejalan kaki adalah raja

Di Indonesia: Let’s be honest, di sini, nasib pejalan kaki nggak terlalu mujur. Nggak hanya nggak punya trotoar yang bebas dari pedagang kaki lima dan motor-motor yang pengemudinya nggak sekolah, saat kita menyetir dan lampu baru berubah dari kuning ke merah, kadang kita nekat ‘nyempet-nyempetin’ untuk terus maju, tanpa memperhatikan bahwa mungkin ada pejalan kaki yang sudah siap menyebrang. (Tentu ini bicara pejalan kaki yang taat aturan ya, yang menyebrang pada tempatnya. Yang nggak taat aturan nggak usah dibahas, panjang pasti ceritanya!)

Di Amerika: Pejalan kaki adalah raja. Ketika mobil kita berbelok dan ada pejalan kaki yang sudah bersiap menyebrang, mereka ‘boleh’ marah sama kita. Mereka boleh protes dan akan membuat kita merasa malu karena tidak memperhatikan jalan atau bersikap arogan. Bahkan di beberapa jalan, ada zebra cross khusus di mana begitu di salah satu ujung jalan ada orang yang menginjakkan 1 kaki saja di zebra cross tersebut (belum nyebrang ya, baru naro kaki doang :D), mobil sudah harus berhenti.

 

Time is money so stop basa-basi

Di Indonesia: Saya tau kita nggak bermaksud buruk dengan berbasa-basi. Malah tujuannya baik, kita mau menghormati orang lain, makanya kita meluangkan banyak waktu untuk ice breaking saat baru ketemu orang, lalu meluangkan waktu saat menyampaikan kabar kurang sedap (baca: ngomong muter-muter biar lawan bicara nggak tersinggung), lalu meluangkan banyak waktu lagi saat berpamitan (bener loh, coba perhatiin, saat berkunjung ke rumah keluarga atau teman, atau bahkan ke kantor klien, pamitannya bisa 15 menit sendiri!).

Di Amerika: Warga Amerika punya cara menghormati orang lain dengan cara yang berbeda, yaitu dengan tidak menghabiskan waktu mereka. It’s true. Especially in big cities like New York or Los Angeles, it’s rude to waste people’s time. Langsung aja bilang butuh apa dan mereka akan bantu dengan segera. Time efficiency sangat penting buat mereka.

Lalu, mana yang lebih baik? Ini bukan soal budaya Barat lebih baik dari budaya Timur dan sebaliknya. Setiap budaya dan tradisi berasal dari histori. Tapi nggak ada salahnya selain meniru cara berpakaian dan mengekspresikan diri, kita adopsi juga hal-hal baik dari belahan dunia lain ini. The question is, are we ready?

Comments

  1. Samhan
    Samhan | Posted on July 2, 2016 at 5:32 am

    nice article. Saya jadi tertarik tinggal di Amerika. Poin terakhir sangat bagus :)

  2. Israwan
    Israwan | Posted on July 2, 2017 at 1:03 pm

    Artikel yang sangat membantu membuka komunikasi. Sepertinya saya mau coba. NICE.

  3. Indonesian Habits We Lost When We Moved Abroad | ReeSays
    Indonesian Habits We Lost When We Moved Abroad | ReeSays | Posted on August 18, 2017 at 2:33 am

    […] Di sini, waiter yang akan datang ke meja kita dan memanggil waiter akan dianggap tidak sopan. Lengkapnya bisa dibaca di sini. […]

  4. muhammad rafi
    muhammad rafi | Posted on September 21, 2017 at 12:26 am

    informasi yang sangat bermanfaat terima kasih

Leave a Reply