My Adventurous Trip Exploring Indonesia – Part 1: Wae Rebo

3 Comments

Yuhuuu, Jakarta, I’m back! Dengan kulit lebih tan, cerita dan foto yang banyak banget sampai bingung mau yang mana yang mau di-upload duluan. 😀

Buat yang follow Instagram saya, pastinya tau ya kalau saya baru pulang dari Flores, NTT. Tapi saya memang belum banyak nge-post karena memang sambungan internet susah sekali di sana. Anyway, perjalanan saya kemarin itu sangat berkesan di hati. Karena banyak yang ingin saya ceritakan, saya bagi tulisan ini menjadi beberapa bagian ya. Ini adalah bagian yang pertama.

Trip ini berlangsung dari tanggal 12–17 Agustus dengan itinerary perjalanan Jakarta – Bali – Laboan Bajo – Denge – Wae Rebo – Denge – Dintor – Laboan Bajo – Pulau Kalong – Pulau Rinca – Pink Beach – Pulau Padar – Pulau Kanawa – Labuan Bajo – Bali – Jakarta. Panjang yaaa. 😀

With my travel partner in crime, Suhe dan Yudy. Ready for our adventure!

With my travel partner in crime, Suhe dan Yudy. Ready for our adventure!

Perjalanan dimulai dari Jakarta ke Bali, di mana kami transit 1 malam karena pesawat ke Labuan Bajo berangkat jam 7 pagi keesokan harinya. Perjalanan dari Bali ke Labuan Bajo memakan waktu 1,5 jam dan begitu mendarat, semua provider telepon mati kecuali Telkomsel.

Karena akan menginap di Desa Wae Rebo dan Dintor selama 2 malam, kami memisahkan pakaian dan peralatan dari koper dan membawa tas khusus untuk kedua tempat itu. Semua sisa barang di koper dititipkan di Labuan Bajo.

Perjalanan dimulai dengan naik mobil, dengan kondisi jalan yang sangat bikin eneg alias berkelok-kelok. Untung saya sudah siap dengan Antimo. Di tengah perjalanan, kami berhenti sebentar untuk makan siang di Dintor dan buru-buru lanjut karena takut sampai di tujuan kemalaman. Sekitar 6 jam kemudian, akhirnya kami sampai di Denge dan dimulailah perjalanan tracking menuju Wae Rebo. Di sini kami beruntung karena saat akan jalan, ada banyak tukang ojek yang menawarkan jasa mengantar untuk beberapa kilometer agar perjalanan sedikit lebih cepat. Tawaran yang nggak akan kami lewatkan dong, haha, dan ini adalah keputusan yang tepat karena ternyata jalanannya belum beraspal, sebelum akhirnya masuk hutan. Jadi dengan membayar Rp25.000, waktu dan tenaga yang dihemat lumayan banget.

Oh ya, karena tas saya berat, saya pakai jasa porter untuk bantu bawa tas.

Our savior a.k.a our porter! Haha. Tanpamu Piantus, 2 princess ini nggak mungkin kuat tracking. Yang kuning itu tas saya dan di belakangnya ada tas Yudy. Gokil nggak, tuh?

Our savior a.k.a our porter! Haha. Tanpamu Piantus, 2 princess ini nggak mungkin kuat tracking. Yang kuning itu tas saya dan di belakangnya ada tas Yudy. Gokil nggak, tuh?

Asli, kalau nggak pakai porter kayaknya saya sudah menyerah duluan deh, karena dari awal ketika mulai, jalanannya sudah nanjak melulu. Ngos-ngosan sih udah pasti. Sesekali saya berhenti untuk melihat pemandangan yang membuat kita merasa lagi ada di negeri di atas awan. Aduh, cantik banget! Kami mulai tracking sore jadi cuaca nggak panas, tapi karena makan waktu lumayan lama (3,5 jam ajah), akhirnya kami sampai di Desa Wae Rebo malam hari.

First stop, negeri di swan. (Katon banget, nggak? :))

First stop, negeri di awan. (Katon banget, nggak? :))

Begitu sampai, ada upacara penyambutan dulu oleh ketua adat. Selama di sana, kami bertiga menginap di rumah beliau karena rumah yang lain sudah penuh. Malam itu, kami makan sama-sama di salah satu rumah, tidur di atas tikar dengan cuaca lumayan dingin (sekitar 11 derajat Celsius). Yang bikin agak pengap adalah asap kayu bakar yang berasal dari dapur, yang adanya di tengah-tengah rumah.

Area tidur. Bentuk rumahnya bulat. Di tengah ada dapur dan di sisi lain ada 8 kamar yang dihuni oleh 8 kepala keluarga yang hanya disekat oleh tikar dan tirai.

Area tidur. Bentuk rumahnya bulat. Di tengah ada dapur dan di sisi lain ada 8 kamar yang dihuni oleh 8 kepala keluarga yang hanya disekat oleh tikar dan tirai.

Tapi akhirnya kami bisa tidur dan sengaja bangun pagi hari untuk melihat matahari terbit dan jalan-jalan di Desa Wae Rebo yang termasuk salah satu World UNESCO Heritage. Semua pegel akibat tracking kemarin langsung hilang begitu lihat pemandangan yang indah banget.

Sunrise in Wae Rebo. Karena berada di bawah lembah, matahari baru keliatan sekitar jam 6.30-7 pagi.

Sunrise in Wae Rebo. Karena berada di bawah lembah, matahari baru keliatan sekitar jam 6.30-7 pagi.

Perjalanan 1,5 jam naik pesawat, 6 jam naik mobil, 3,5 jam tracking dan 3 kali pipis di semak-semak terbayar lunas saat melihat pemandangan ini.

Perjalanan 1,5 jam naik pesawat, 6 jam naik mobil, 3,5 jam tracking dan 3 kali pipis di semak-semak terbayar lunas saat melihat pemandangan ini.

Pagi itu, kami masih foto-foto di desa sampai jam 10 pagi dan siap untuk melanjutkan perjalanan – dan sudah membayangkan tracking dengan jalanan menurun. Little did we know, ternyata tracking turun cuma lebih mudah sedikit daripada naik, terbukti dengan durasi perjalanan yang tetap memakan waktu 2 jam (beda sejam ajah).

OOTD tracking turun: Top kaos mangkok ayam, celana BelowCepek.com. Walaupun tracking harus nyaman, tapi gaya is a must!

OOTD tracking turun: Top kaos mangkok ayam, celana BelowCepek.com. Tracking harus nyaman, tapi gaya is a must!

Bagaimana perjalanan saya selanjutnya? Tunggu cerita Part 2 yaaa.

Tips ke Wae Rebo:

– Siapkan obat mual seperti Antimo untuk selama perjalanan di mobil

– Untuk tracking, pakai sepatu olahraga yang nyaman atau sendal untuk tracking. Karena licin, saya sih nggak sarankan pakai sendal jepit atau sepatu beralas rata.

– Bawa tas dengan barang secukupya. Biaya sewa porter untuk angkat tas adalah Rp100.000 per tas, one way.

– Untuk menghemat waktu, sewa ojek di awal perjalanan tracking, Rp25.000 one way. Kita juga bisa janjian sama mereka untuk menjemput keesokan harinya. Maklum, di sana tidak bisa telepon nggak bisa diandalkan karena nggak ada sinyal.

– Bawa makanan, snack dan minuman karena kalau lapar atau haus nggak ada warung untuk beli apapun itu.

– Bawa baju hangat karena malam hari di Wae Rebo bisa sangat dingin.

– Untuk foto yang maksimal, bangun jam 6 pagi saat masih sepi. Matahari baru terbit sekitar jam 06.30-7 pagi.

This is INDONESIA!

This is INDONESIA!

Comments

  1. My Adventurous Trip Exploring Indonesia (Part 2): Living on Boat in NTT | ReeSays

    […] udah mupeng belum gara-gara baca bagian cerita Part 1 kemarin? Lanjut […]

  2. The Power of a Good Haircut | ReeSays
    The Power of a Good Haircut | ReeSays | Posted on September 1, 2016 at 1:54 am

    […] sejak 2015. Lalu, kenapa nggak langsung potong aja nggak lama setelah konser? Karena saya mau trip rempong dulu, hahaha. (rempong dalam artian banyak kegiatan fisik, tapi yang pasti worth it banget ngeliat […]

  3. Indonesia, Gue Banget! Rekomendasi 17 Destinasi Wisata Dalam Negeri Yang Wajib Dikunjungi | ReeSays

    […] Sunrise di Wae Rebo, salah satu UNESCO Heritage. Baca cerita lengkapnya di sini. […]

Leave a Reply