Media Sosial vs Sahabat

one Comment

social media

Di jaman di mana berbagai hal bisa dilakukan secara online seperti sekarang ini sepertinya membuat jumlah follower, like, love dan comment jadi sangat penting.

Coba bayangkan, apa sih yang tidak bisa dilakukan lewat internet? Bahkan bisa dibilang kita sekarang bisa hidup tanpa perlu keluar rumah sama sekali. Belanja bisa pesan online, transfer uang tidak perlu ke bank karena ada m-banking, atau ingin tau kabar teman? Tinggal liat halaman media sosialnya aja.

Tapi apakah 1000 follower itu bisa kita curhatin kalau baru dikasih SP sama atasan atau saat kita kehilangan orang tercinta? Pas sakit aja paling cuma dapat tulisan ‘GWS’.

Kenyataannya, sedigital apapun hidup kita sekarang, tetap cuma sahabat dan teman dekat yang bisa kita telepon jam 12 malam atau ajak temenin makan es krim saat baru putus cinta.

Bersahabat perlu usaha. Perlu kualitas, bukan kuantitas.

Karena itu, luangkan waktu untuk bertemu, bercakap-cakap secara nyata, bukan hanya dengan meninggalkan comment di Facebook atau love di Path dan Instagram. At the end of the day, what you need is one good friend (if you have more, good for you, you’re lucky!) who you can talk to about anything. Someone who won’t throw you under the bus. A person who you share your worries and happiness with.

And for that, let’s call and meet up. Jaman sekarang punya sahabat sejati itu sangat mahal nilainya—karena gadget nggak akan pernah bisa menggantikan manusia.

Comments

  1. Social Media: Good vs Evil | ReeSays
    Social Media: Good vs Evil | ReeSays | Posted on June 9, 2016 at 3:07 am

    […] Karena kita merasa udah ‘ketemu’ sama orang itu dengan baca curhatan dan cerita-ceritanya lewat …. Yang lebih parah, kita merasa kenal cuma karena kita follow dia dan comment kita pernah dibalas […]

Leave a Reply