Media Sosial Bukan Diary

no Comment

Saya mau absen dulu nih, siapa di antara kamu yang dulu punya diary? Yang diumpetin supaya orangtua kita nggak bisa baca dan nggak ada yang boleh tahu isi hati kita, sampai beli diary yang pakai gembok, hihi.

diary lock

Nah, itu kan jaman dulu ya, sebelum ada media sosial. Jaman sekarang, kita bisa tahu teman kita (yang akun media sosialnya kita follow) lagi senang, lagi jatuh cinta, lagi bete, sampai bisa nebak (nebak ya, bukan berarti tahu) kalau teman kita itu lagi ada masalah dengan pasangannya, tanpa perlu tanya ke orangnya. Cukup dengan melihat postingannya aja. Ada yang suka tiba-tiba posting quote-quote seperti “I deserve to be happy” atau sejenisnya. Atau yang tadinya foto sama pasangan, sekarang tiba-tiba foto sama teman-teman aja. Atau ada juga postingan kemarahan dengan kata-kata yang pedes atau menghina orang yang dimaksud (yang belum tentu orang yang disindir itu baca atau sadar kalau dia yang lagi disindir).

Salah nggak sih, curhat ke publik? Hmm, saya nggak bisa jawab pertanyaan itu, tapi mungkin yang harus kita sadari adalah batasan curhat yang kita post. Sedalam apa? Tau kan kalau postingan itu bisa di-screen capture dan disebar lagi ke orang lain? Dan biasanya orang yang melakukan itu cuma punya dua kepentingan: pingin tahu karena peduli atau malah nyukurin.

Kalau memang sudah nggak tahan banget, ngobrol deh sama teman-teman terdekat. Di situlah perlunya punya inner circle. Marah-marahlah di situ karena di depan mereka, kamu bisa jadi kamu yang apa adanya. Atau ya tulis di diary atau posting di akun yang private.

My inner circle. They know every season in my life since I was 13 years old.

My inner circle. They know every season in my life since I was 13 years old.

Saya pun menyadari kok, susah menahan diri untuk tidak ventilating. Menggoda banget memang, kayaknya habis posting merasa puas gitu. Jadi tip dari saya kalau lagi sebeeel banget, ya udah tulis aja apa yang mau ditulis, tapi lalu jangan langsung di-post, melainkan baca dulu berkali-kali. Biasanya setelah dibaca, emosi di hati sudah agak reda dan kita nggak jadi posting.

diary copy

Leave a Reply