#BaladaEntrepreneur edisi Lady Bosses: Debbie Suganda – Do What You Love and Love What You Do

no Comment

Buat yang belum tau, dulu saya pernah tinggal di Bali loh selama 8 tahun. Selama di sana, saya kenalan dengan seorang perempuan yang akhirnya jadi sahabat saya, yang bisnisnya saat itu jadi salah satu pioneer dan trendsetter reflexology atau pijat refleksi di Bali.

Yuk, simak obrolan saya dengan Debbie Suganda, pemilik dari Cozy Spa.

1. Kenalan dulu ya. Siapa sih Debbie itu?

Perempuan kelahiran Jakarta, 40 tahun, ibu dari 3 anak dan memilih Bali sebagai tempat untuk membangun keluarga, mimpi dan cita-cita sejak lulus kuliah perhotelan STP tahun 1998 dan tidak mau kembali lagi ke Jakarta. Juga seseorang yang nggak pernah bermimpi untuk dikasih kesempatan bekerja dan menjaga di Cozy. :)

2. Kenapa dulu berpikir untuk bikin Cozy dan nggak kerja kantoran aja?

Saya sempat kerja kantoran. Lulus kuliah sempat kerja di perusahaan yang menjual paket kapal pesiar, lalu bekerja di Mandara Spa yang saat itu sedang booming dan banyak buka cabang di seluruh area Bali, terakhir gabung di perusahaan yang tugasnya mencari dan membantu investor yang mau membuat spa di Bali.

Di perusahaan inilah ide-ide saya diterima dan dipakai sepenuhnya oleh atasan. Senang banget, kan? Di sana juga saya ketemu dengan ‘my half a wing’, Ina, teman ngobrol sepulang kerja. Yang dibahas biasanya seputar hal-hal yang terjadi di spa. Kami nyambung banget. Seleranya sama, apa yang kami suka dan nggak suka juga sama.

cozy1

Punya partner yang cocok di bisnis adalah salah satu kunci sukses dalam berwirausaha.

Nah, karena saya sering membuat konsep dan program buat kerjaan, juga sering mencoba tempat spa lain untuk membuat perbandingan, akhirnya di kepala timbul banyak pertanyaan, seperti:

“Kenapa ya pijat yang serius, dengan tekanan dan teknik yang enak itu susah banget saya dapatkan? Apalagi dengan harga terjangkau untuk pelanggan level manager atau keluarga Indonesia (saat itu sekitar Rp50.000-100.000).”

“Pijat di hotel enak, tempatnya bagus, tapi kenapa teknik pijatannya kebanyakab lembut dan penuh dengan ritual yang cukup lama? Tapi saat masuk ke sesi pijat, susah kena di beberapa spot yang harusnya bisa release tension.”

“Pijat di tempat biasa pun (yang katanya untuk orang lokal), selain nggak mendapatkan teknik yang pas, tempatnya juga jauh dan bersih dan bagus.”

Untuk jenis pijatnya sendiri, saya adalah penggemar foot reflexology karena di keluarga terbiasa mendapatkan pijatan dari si mbok di rumah, hihi. Jadi setiap dengar ada tempat yang menyediakan jasa ini, saya datangi, termasuk ke Ubud yang katanya untuk lokal tapi harganya tetap mahal (namanya juga Ubud ya).

Di sinilah saya menyadari bahwa semua pengusaha pijat di Bali hanya membuat tempat untuk turis. Mereka nggak memikirkan bahwa bagi orang lokal, pijat adalah bagian dari lifestyle yang bisa bikin badan dan pikiran lebih sehat.

Begitulah. Observasi itu saya lakukan secara kontinyu sambil bekerja, dari tahun 1994 sampai 2001. Lalu setelah berpikir panjang dan dalam dengan suami, dia yang bilang, “Buka sendiri aja kalau sudah tau pijat itu seharusnya seperti apa dan bagaimana, apalagi kamu hobi banget.”

Maka saya membuat ide membuka Cozy, yang setelah saya sampaikan ke Ina, langsung dapat dulungan serius. Lengkap deh, sayapnya kiri dan kanan. :)

Cozy Spa, pijat enak untuk semua kalangan.

Cozy Spa, pijat enak untuk semua kalangan.

3. Bisa ceritain suka duka selama buka bisnis dengan sahabat?

Sukanya banyak banget, dukanya nggak ada. Kebayang nggak kalau kita menghadapi segala sesuatu sendiri? Nggak ada yang diajak berbagi. Saya nggak bisa membayangkan bekerja di Cozy tanpa Ina.

4. Punya pengalaman yang paling nggak bisa dilupakan?

Pengalaman yang bikin kami kita geleng-geleng kepala banyak banget, tapi abis itu ketawa, haha. Salah satu yang nggak terlupakan sih waktu kami dikasih tau sama owner gedung tambahan di Cozy I dulu, bahwa kami nggak bisa memperpanjang sewa karena gedungnya mau dipakai. Deg-degan karena kami belum siap punya gedung baru. Ternyata, kami nggak bisa memperpanjang sewa karena gedung yang kami tempati itu mau dijadikan spa juga sama mereka :) Klasik ya.

Tapi Tuhan tuh baik dan setia banget. Di saat yang sama kami ditunjukkan gedung Cozy II yang saat ini kami tempati. Meski begitu, kadang sebel juga sih kalau ingat ‘diharuskan pindah’ di saat kami belum siap secara finansial, apalagi karena di gedung baru kami harus membangun 3 lantai dan ukurannya 3 kali lebih besar. Tapi anyway kami pindah juga dengan senyum lebar dan pas nengok ke gedung lama, yang saya dan Ina rasakan adalah ya ampuunn, sudah sampai juga ya di sini!

Meski judulnya pemilik, masih loh Debby turun tangan langsung ke bagian operasional.

Meski judulnya pemilik, masih loh Debbie turun tangan langsung ke bagian operasional.

Staff Cozy Spa. Senang ya lihat foto ini.

Staff Cozy Spa. Senang ya lihat foto ini.

5. Bagaimana cara membagi waktu antara menjadi pengusaha, bersama keluarga dan bersama teman? Soalnya seru banget foto-fotonya di media sosial.

Hahaha. Media sosial memang jadi ‘diary’ saya yang bisa dibaca banyak orang. Saya suka titip kenangan di sana, dalam artian upload momen-momen bersama orang-orang terdekat dan menyimpannya di sana. Siapa tau semakin berumur kita semakin punya banyak kenangan yang bisa mengingatkan ke saat-saat yang kita sediakan untuk makan, melepas rindu atau bahkan curhat sama teman.

Salah satu yang sedikit mempermudah bagi waktu adalah karena saya tinggal di Bali. Hidup di sini sangat menyenangkan karena ke mana-mana nggak semacet Jakarta. Dari tempat kerja ke tempat kumpul sama teman itu paling 15-20 menit. Jadi memang bisa punya lebih banyak waktu untuk ‘hidup’ di luar jam kerja.

Tapi kalau sudah di rumah, memang harus ganti baju, ‘ganti suara’ dan ganti fokus karena justru yang ada di rumah inilah yang jadi penentu apa kita bisa kerja dengan baik dan penuh semangat.

6. Ada pesan apa untuk pembaca ReeSays?

Mungkin bukan pesan kali ya, tepatnya mengingatkan saja bahwa sabaiknya hidup dinikmati dan anugerah kesehatan itu disyukuri. Selain itu, hidup juga harus bermanfaat. Buat para wanita, biasanya hidup kita penuh dengan warna-warni peran. Nikmati saja semuanya.

Kalau untuk pekerjaan, yang harus banget adalah mencintai apa yang kita kerjakan atau kita mengerjakan apa yang kita cintai. Hasilnya nggak akan mengecewakan loh. Nggak perlu menjadi pengusaha kalau nggak siap dengan berbagai shock therapy dan jam kerja yang panjang. Tapi kalau pun mau punya usaha, jangan tanggung-tanggung. Harus siap siaga buat bisnis kita 28 jam sehari, 8 hari seminggu. Hihi, ya kan, Ree?

Dedicated to all working moms

Dedicated to all working moms

 

Cozy Spa

Jakarta: Cozy Gandaria – 021 725-2853

BSD: Cozy BSD – 0851 0008-1186

Bali:

– Cozy Sunset Road – 0812-3850-6611-33

– Cozy Batubelig – 0812-3850-6644-55

Leave a Reply