Kisah Unik Ketemu Jodoh: Dari Becak Turun ke Hati

2 Comments

Sampai juga kita di Kisah Unik Ketemu Jodoh yang keempat. Meski edisi terakhir, cerita ini justru paling random dan paling manis dalam membuktikan kalau jodoh bisa ketemu di mana aja.. termasuk di pinggir jalan! Hihi, iya, beneran.

Cerita kali ini datang dari ibunda kontributor ReeSays, Sekar, yang bertemu pasangan hidupnya di Yogyakarta, kota dari mana keluarganya berasal. Yuk, kita jalan-jalan ke kota budaya ini dengan setting tahun 70an.

 

Yogyakarta, suatu hari di tahun 1976

“Perkenalkan, saya Maharani, mahasiswi tingkat akhir di sebuah akademi sektretaris di Yogyakarta. Sore ini saya berencana jalan-jalan ke Jl. Solo – pusat perbelanjaan di di Jogja – bersama sahabat saya, Emmy. Biasa, window shopping.

Sekitar jam 5 kami sampai di sana dan langsung menjelajahi jalanan ini. Keluar-masuk toko. Asik juga untuk mengisi waktu, sambil gosipan sama Emmy sesekali, hihi.

Jalan Solo yang sarat dengan pertokoan, salah satu tempat belanja hits di tahun 70an (foto: diambil 2 tahun yang lalu oleh Soga Soegiarto)

Jalan Solo yang sarat dengan pertokoan, salah satu tempat belanja hits di tahun 70an (foto: diambil 2 tahun yang lalu oleh Soga Soegiarto)

Lagi asik berjalan, tiba-tiba ada sekelompok laki-laki yang sedang nongkrong di depan mobilnya memanggil-manggil, ngegodain. Ih, males deh. Saya paling sebel kalau digodain begini. Awalnya mau kami cuekin, tapi kok mereka nggak kunjung berhenti? Merasa terganggu, saya bilang ke Emmy, ‘Kita masuk ke toko ini aja yuk, nunggu mereka pergi’ , sambil menggandeng tangan sahabat saya ini untuk masuk ke toko serba ada terdekat, toko Vinolia.

Nggak disangka, sambil sembunyi, Emmy bilang, ‘Eh, tapi tadi yang paling depan lumayan loh orangnya, lumayan ganteng’ , ujarnya sambil ketawa. Saya sebenarnya geli juga sih dan jadi ikut tersenyum. Lalu Emmy menambahkan, ‘Kamu yakin nggak mau kenalan?’. Ih, ini apa-apaan sih? Kenapa teman saya jadi ikut-ikutan? ‘Nggak, ah’ , jawab saya pendek. 

Lama menunggu di toko, kami mulai capek. Cowok itu sempat masuk juga loh dan mau menyapa. Tapi saya beneran nggak yakin dan akhirnya bilang ke Emmy, ‘Kita keluar aja deh. Jalan cepat-cepat dan jangan hiraukan mereka. Pokoknya kita lewati mereka tanpa nengok sama sekali.’ Emmy pun iya-iya aja, meski sesekali ia masih nanya ulang, ‘Yakin nggak mau kenalan?’. Nyebelin.

Satu – dua – tiga, saya menghitung dalam hati, lalu buru-buru kami keluar dari toko. Cowok itu sudah kembali bergabung sama teman-temannya dan tetap memanggil-manggil, kami cuekin aja. Untung nggak jauh dari situ ada becak, langsunglah kami naik tanpa nawar. Setelah memberikan alamat, becak pun melaju.. meski ternyata masih harus melewati cowok-cowok itu lagi. Yah, capedeh. Nggak papa, yang penting momen yang aneh ini akan segera berakhir. 

Tapi ternyata saya salah.

Saat kami melewati mereka, entah ada angin apa, dari atas becak Emmy tiba-tiba meneriakkan alamat rumah saya ke arah mereka! ‘Sawojajar enaamm!!’, ujarnya lantang. Duuuhh, ide banget siihh. Teman macam apa coba? Saya sebel bukan kepalang. Meski kalau dipikir-pikir, cerdas juga ini sahabat saya ya, niat banget gitu ngerjain saya. Diam-diam saya mulai tersenyum meski berusaha nggak memperlihatkannya. Emmy harus tau bahwa yang dilakukannya itu nggak banget. Huh.

Tau nggak apa yang terjadi selanjutnya, saat kami sampai di rumah? Coba tebak.

Betul, kelanjutannya seperti di film-film romantis: Cowok tadi sudah sampai dan nungguin kami di depan rumah. 

Kalau sudah begini, kan sulit buat pipi saya untuk nggak blushing :) Usahanya itu, loh. Kami pun berkenalan. Namanya Adjie and the rest is history. Kami menikah tiga tahun kemudian, pada tahun 1979. Sampai sekarang kami masih bersahabat dengan Emmy dan selamanya berterima kasih padanya. Kalau bukan karena ‘ide brilian’nya, kami belum tentu bisa bersama seperti hari ini.”

Foto saya yang diambil pada tahun 1975

Foto saya waktu berumur 21. Tujuh puluhan banget ya gayanya.

1976 – Saya dan Adjie di pesta resepsi pernikahan teman.

1976 – Saya dan Adjie di pesta resepsi pernikahan teman.

Upacara pernikahan kami, Agustus 1979.

Upacara pernikahan kami, Agustus 1979.

Duh, sweet banget kan ceritanya? Saya aja terharu saat mendengarnya.

Meski kita sudah sampai di penghujung bulan Kasih Sayang, bukan berarti kesempatan menunjukkan cinta ke pasangan dan orang-orang terdekat ikut berakhir. Pesan saya, life is short so show your love to your loved ones whenever you can.

Buat yang mau baca Kisah Unik Ketemu Jodoh lainnya, klik artikel-artikel di bawah ini.

Comments

  1. Jalan2Liburan
    Jalan2Liburan | Posted on February 25, 2017 at 7:46 pm

    I want more…I want more… :)

Leave a Reply