Ketika Empati Menjadi Langka

no Comment

socmed

Akhir-akhir ini saya merasa gusar melihat postingan yang ada di timeline media sosial saya. Dulu saya sempat ‘membersihkan’ friend list yang terlalu sering menulis mengenai SARA atau yang kerjanya marah-marah mulu sama pemerintah seakan-akan dia yang lebih bisa. Tapi sekarang, timeline saya sering sekali berisi meme-meme yang menurut saya nggak lucu dan memperlihatkan bahwa sepertinya rasa empati kita terhadap orang lain sudah hilang. Atau bisa jadi hidup kita segitu pahitnya, sehingga sepertinya melegakan bila kita isi dengan mengejek orang lain yang hidupnya lebih malang?

Contohnya, di mana letak lucunya mengejek terus-terusan kejadian seorang perempuan muda yang baru meninggal karena dugaan diracun oleh temannya? Ia punya orangtua yang baru saja kehilangan anak kesayangan, suami yang baru saja menikah 1 bulan kehilangan istri, belum lagi sahabat-sahabatnya.

Contoh lainnya, yes, we are proud of Joey Alexander being the youngest nominee in the history of Grammy Awards, tapi apakah pantas kita mengejek Agnes Monica karena dia belum masuk Grammy? Apakah kita segitu berprestasinya sampai bisa ikutan mengejek?

Dengan dunia yang makin tua, kita yang makin lelah dengan tuntutan hidup setiap hari, mungkin itu membuat kita lupa berempati.

Jangan sampai rasa empati hilang hanya karena ingin dapat banyak repath, like, love dan comment di media sosial.

Leave a Reply