Jangan Jadi Orang Yang Nyebelin, Hindari 10 Hal Ini

no Comment

slide1

Karena saya, ehem, sudah lumayan dewasa (alias nggak mau dibilang tua), ada beberapa hal yang setiap tahun membuat saya ingin menjadi orang yang lebih baik dan sebaliknya, suka KZL kalau ketemu sama hal-hal yang nyebelin banget.

Nah menurut saya, ini adalah hal-hal yang lebih baik kita buang aja deh, biar nggak jadi orang yang nyebelin:

1. Menyapa dengan menyebutkan kondisi fisik

“Hai, apa kabar? Gemukan ya lo?”

Kenapa sih nggak selesai aja di “apa kabar”? Bener deh, ini nggak enak banget buat kalimat pembuka. Saya tau maksudnya bercanda, tapi please deeehh.

2. Pertanyaan kepo

Ada lah udah cakep-cakep dandan pergi ke kawinan teman, tiba-tiba teman SMP datang dan nggak pake basa-basi langsung nanya, “trus lo kapan kawin?”

Kalo keluarga sih masih harus dimaklumin ya, tapi kalau nggak deket-deket banget, bilang “Apa kabar?” aja sudah cukup loh. Atau “Kapan punya anak? Kok belum juga?”. Nah ini pertanyaan aneh banget, kan? Memangnya anak bisa dipesan di online shop?

3. Ngaret

“Jam berapa kita ketemuan?”

“Jam 10an, yaaa.”

Aduh, saya paling sebel sama yang kayak gini. Nggak mau commit banget gitu. Memangnya kerjaan kita nungguin dia aja? Apa sih susahnya bilang jam 10.30 atau 10.45? Lebihin sedikit aja kalau takut telat. Lihat deh di jam tangan, nggak ada kan, jam 10an?

4. Pinjam uang

Reunian sekolah, baik reuni SD, SMP, SMA atau kuliah, memang menyenangkan ya. Yang nyebelin tuh pas selesai reuni, tiba-tiba ada SMS atau pesan di inbox yang menceritakan semua problem dan pinjam uang. Padahal baruuu juga ketemu setelah puluhan tahun. Akibatnya kita suka jadi males datang lagi deh ke reuni. Kalau mau pinjam uang, kan sekarang semua bank punya program KTA, sampai nawar-nawarin, lagi!

5. Gosipin orang

Hehehe, yang ini memang susah ya. Memang yang namanya gosip, makin digosok makin sip. Tapi kayaknya ada lebih banyak hal menarik di dunia ini yang bisa diobrolin deh pas lagi ketemuan, ya nggak sih? Mendingan catch up kabar masing-masing, curhat bisnis atau percintaan, atau ngomongin tren makeup yang lagi hits. Kalo perlu gosip kan tinggal nonton infotainment.

6. Complain terus

Saya masih ingat jaman masih kecil dulu, kalau curhat cuma bisa di diary. Yang nulis kita, yang baca juga kita. Gitu deh. Nah, di jaman media sosial ini jadi berubah. Curhat kayaknya bisa ke semua orang. Sekali-sekali sih nggak papa, tapi kalo tiap posting isinya marah-marah melulu, complain melulu, playing victim melulu, kita yang nggak sengaja baca capek juga, ya. Gini deh, kalau nggak suka sama bos kamu atau perusahaan tempat kamu kerja, ada dua hal yang bisa dilakukan: Do something about it (alias resign atau laporkan ke HRD atau atasan) or suck it up!

7. Iri hati

Ini sifat manusia yang paling jelek deh menurut saya. Karena kalau dipikir-pikir, kita hidup bermasyarakat sudah pasti ada yang lebih cantik, lebih kaya, lebih pintar, dan lain-lain. Kalau trik saya, rasa iri itu saya convert menjadi pacuan. Kalo dia bisa, kenapa saya enggak? Tapi ya harus pake usaha ya, nggak bisa ngomong doang. Kayak liat body-nya Adriana Lima (well, everyone knows how much I’m obsessed with her), saya iri berat dan saya olahraga supaya bisa dapetin goal itu.

8. Bermuka dua

Nah, ini dia nih. Males banget ya kalau ketemu orang yang di depan kita baik, tapi di belakang ngomongin. Resep saya yang bertahun-tahun ada aja yang ngomongin adalah sebagai berikut:

– Nggak perlu terusik kalau kita memang bukan yang seperti diomongin

– Tetap jadi diri sendiri, lama-lama orang lain akan melihat siapa yang gila dan siapa yang waras

– Nggak perlu panas sampai dengar atau melihat bukti dengan mata atau kuping sendiri

– Kalau terganggu banget, cari sumbernya dan tanya ada masalah apa dia dengan kita

– Tanya ke diri sendiri: Perlu banget nggak temenan sama ini orang? Kalau nggak, selesaikan aja. Nggak bermusuhan, tapi nggak perlu dekat lagi. Masih banyak teman lain, kan?

9. Merendahkan orang lain (untuk membuat diri sendiri merasa lebih baik)

Yang saya maksud dengan ini adalah kadang orang ingin merasa dirinya lebih baik, tapi dengan cara merendahkan orang lain. Contohnya, “Saya doakan kamu segera punya anak ya supaya bisa menjadi wanita yang sesungguhnya”. Hmm, maksudnya gimana sih? Memang kalau nggak punya anak, kita ini wanita jadi-jadian? Nggak perlu banget kaaan, basa-basinya?

10. Nggak punya sopan santun

There’s a thin line between asking for a help and telling people what to do: kata-kata TOLONG atau PLEASE. Walaupun ke teman dekat atau ke staff atau asisten rumah tangga, menurut saya, itu tetap harus dipakai. Kalau salah, ya minta maaf. Mau sekecil apapun seperti nyenggol atau nginjak kaki nggak sengaja. Kalau terima sesuatu, mau hadiah atau pertolongan, bilang terima kasih. Jangan sampai kita berpikir, karena sama teman dekat misalnya, kita nggak perlu berterima kasih saat dikasih hadiah. Memang, orangnya nggak pamrih dan berharap kembali sih, tapi kata-kata terima kasih itu buat saya masih perlu banget.

Intinya, there are things that money can’t buy, like manners, moral and integrity. Make sure you have them.

Leave a Reply