#JakartaAttack Tinggalkan Jejak di Hati Warga Ibukota

no Comment

Tepat seminggu yang lalu, Jakarta digunjang teror pertamanya sejak kejadian Bom Kuningan 6 tahun yang lalu.

Yang terjadi kali ini adalah ledakan akibat bom bunuh diri dan penembakan terhadap masyarakat sipil oleh sekelompok orang yang teridentifikasi sebagai simpatisan Islam ekstrim. Banyak hal terjadi setelah peristiwa teror yang berlangsung selama kurang lebih 3 jam itu, mulai dari yang serius seperti munculnya aksi solidaritas #KamiTidakTakut sampai ke hal-hal lucu di dunia maya, seperti heboh barang branded yang dipakai polisi (ada yang sudah PO sepatu Gucci, Adidas atau tas Coach?), tukang sate yang tampak santai tetap jualan dan #KamiNaksir polisi ganteng. 😀

Seberapa pun kita mencoba mengalihkan perhatian dari kejadian mengerikan ini, tidak bisa dipungkiri teror yang terjadi tidaklah mudah untuk dilupakan. Bagaimana #JakartaAttack meninggalkan jejak di hati warganya?

ReeSays ngobrol dengan 3 orang teman yang bekerja 2 stasiun radio di Gedung Sarinah dan sedang berada di area gedung saat peristiwa menegangkan ini terjadi.

Ayumi Astriani, Waspada Suara Keras dan Kerumunan

IMG_8839-1

Saat ledakan pertama terjadi, Ayumi yang adalah penyiar 89.6 I Radio masih berada di lantai 8 Gedung Sarinah dan belum mendengar apa-apa. Ledakan kedua, Ayumi mendengar dan merasakan getarannya, tapi mengira itu suara petir sehingga dirinya tidak merasa takut. “Mobiku kebetulan diparkir di depan McDonalds persis dan saat aku menuju lapangan parkir, saya lihat seorang ibu berlari panik sambil menggendong anaknya dan berteriak “Bom bunuh diri!”.

Dari situ, Ayumi pun bergegas melongok ke arah Jalan Thamrin dan melihat ada 2 mayat tergeletak dan dekat Pos Polisi. Orang-orang pun makin ramai berkumpul untuk melihat apa yang terjadi. “Dari tempat saya berdiri itulah saya lihat ada 1 orang yang keluar dari kerumunan dan langsung mengeluarkan pistol dan menembak membabi buta ke arah kerumunan! Saya pun segera masuk kembali ke dalam gedung untuk menyelamatkan diri,” ceritanya.

Bagaimana kejadian ini mempengaruhi Ayumi?

“Saya yang saat itu nggak berada di tengah kerumunan aja sekarang agak parno melihat banyak orang, melihat orang berompi, dengar suara keras, dengar teriakan. Saya nggak bisa membayangkan yang dirasakan mereka yang berada di kerumuman atau bahkan keluarga korban.”

 

Budhi Samsudin, Lebih Berempati Terhadap Warga Daerah Konflik

IMG_8838-1

Sama seperti Ayumi, saat #JakartaAttack berlangsung pada jam 10.40 WIB, Budhi sedang berada di lantai 8 Gedung Sarinah, mengerjakan daily routine sebagai Program Director 90.4 Cosmopolitan FM dan nonton video-video baru di YouTube – dan saat mendengar ledakan, ia juga mengira itu adalah petir atau runtuhnya sebuah bangunan tua di kawasan Sarinah.

Dugaannya seketika buyar saat mendengar bahwa ada bom terjadi di Pos Polisi di depan Gedung Sarinah. “Serentak saya dan beberapa teman lari ke arah jendela sisi gedung yang menghadap Pos Polisi tersebut”. Lalu karena keadaan setelah itu sempat tenang sejenak, Budhi pun kembali ke meja kerja, namun ketenangan ini tidak berlangsung lama. Selang 1-2 menit dari ledakan itu, terjadi ledakan-ledakan susulan dan baku tembak. “Sambil menonton tayangan TV soal apa yang terjadi di bawah, semua orang di kantor dikumpulkan dan dibrief untuk tetap tenang dan berdoa, karena saat itu semua karyawan tidak bisa meninggalkan gedung sampai keadaan dianggap kondusif”. Sekitar jam 14.30 akhirnya semua karyawan sudah boleh meninggalkan Gedung Sarinah.

Bagaimana kejadian ini mempengaruhi Budhi?

“Setelah kejadian ini, saya jadi bisa lebih berempati dan merasakan bagaimana rasanya orang lain yang hidup di daerah yang tidak aman atau daerah konflik, yang sehari-harinya hidup penuh dengan ancaman. Saya juga lebih merasa bersyukur bisa hidup seperti sekarang. Contohnya, satu hari setelah kejadian, kita bisa tetap melanjutkan hidup normal seperti biasa, bekerja dan makan enak.” So true.

 

Ucita Pohan, Panik Bukanlah Solusi

IMG_8837-1

Ucita, penyiar 90.4 Cosmopolitan FM, sedang menjalankan tugasnya di ruang siaran saat mendengar suara keras, yang juga dikiranya suara petir. Namun, segera ia pun menyadari bahwa ledakan itu berasal dari Pos Polisi di depan Gedung Sarinah.

“Setelah mendengar ledakan sampai 4 kali, ingin rasanya saya lari menjauh dari sana, namun saya segera sadar kalau keadaan akan lebih berbahaya bila kami yang berkantor di Sarinah langsung keluar dari gedung karena belum ada yang bisa menjamin keamanan area publik sekitar,” ungkapnya.

Bagaimana kejadian ini mempengaruhi Ucita?

“Satu hal yang saya sadari adalah ternyata aku merasa khawatir dan sedikit takut, tapi nggak terlalu panik. Mungkin karena saya percaya kalau panik bukan solusi terutama dalam keadaan genting. Jadi saya pun lebih pasrah dan yang terpenting, belajar untuk lebih waspada”.

Buat warga Jakarta yang sempat terguncang mendengar kejadian ini atau bahkan sempat berada dekat TKP, yuk share cerita singkatmu di bawah ini.

Leave a Reply