Jakarta Empat Dekade

2 Comments

monas

Nggak terasa, kita sudah di pertengahan tahun aja. Buat warga Jakarta, bulan Juni selalu ekstra istimewa karena pada tanggal 22, ibukota tercinta merayakan hari jadinya. Buat saya yang lahir dan besar di kota ini, Jakarta menyimpan sejuta kenangan dan harapan. Untuk itu, menyambut ulang tahun Jakarta yang ke-490, saya menuliskan kenangan indah dan berbagai hal baik di kota ini yang sudah saya alami selama empat dekade. Yuk, masuk mesin waktu!

 

Jakarta tahun 80an

Di dekade ini, saya masih SD, jadi sering bepergian sama orangtua. Ke mana aja? Air mancur menari di Monas itu udah hiburan banget. Kalau mau shopping, biasanya ke Gajah Mada dengan Rimo Department Store-nya, hihihi #anaklama pasti langsung pada nostalgia nih dengar nama ini. Belanja di sini dulu rasanya udah megaaang banget, berasa orang kaya, deh. Trus kalau mau makan mewah, misalnya ada yang ulang tahun, kami pergi ke Steak Gandy. Asli, suasananya seperti di film Dono, Kasino, Indro gitu. 😀

jkt 80an

Suasana Jakarta tahun 80an di Jalan Jendral Sudirman.

 

Jakarta tahun 90an

Nah, kalau anak jaman sekarang mulai kenal club dari jaman SMA, saya tau disko dari kelas 6 SD, hihi. Dimulainya dengan HD alias Happy Day, tempat di mana kita bisa disko sambil main sepatu roda. Buka siang-siang pula. Seru, kaann? Pas udah nggak ABG banget alias sudah mulai dewasa, saya dan teman-teman suka ke Fire yang ada di Plaza Indonesia, Ebony, Stardust dan sejenisnya.

Kalau ngomongin tempat shopping, pastinya Blok M Plaza dong. Hits banget saat itu sampai ada peraturan anak sekolah kalau pakai seragam nggak boleh masuk karena banyak yang bolos dan main ke situ. 😀 Nah pas sudah agak gede, pindah deh ke Plaza Indonesia (1990) atau ke PIM (1991). Setelah itu Plaza Senayan buka tahun 1996 yang sampai sekarang tetap jadi shopping mall favorit saya.

Tahun 1991, PIM alias Pondok Indah Mall dibuka. Cuma ada 1 pada saat itu (belum ada PIM 2, apalagi PIM 3). Mall ini makin ngetop karena ada serial TV bernama sama yang di antaranya dibintangi oleh Wulan Guritno, Atilla Syach dan Jovanka Mardova.

Tahun 1991, PIM alias Pondok Indah Mall dibuka. Cuma ada 1 pada saat itu (belum ada PIM 2, apalagi PIM 3). Mall ini makin ngetop karena ada serial TV bernama sama yang di antaranya dibintangi oleh Wulan Guritno, Atilla Syach dan Jovanka Mardova.

Gimana dengan tempat makan atau hangout? Salah satu yang happening adalah Hard Rock CafĂ© yang masuknya selalu antri (buat #anaklama, masih ingat adegan antri di tangga?). Saat itu Hard Rock CafĂ© masih berlokasi di Gedung Sarinah. Trus yang juga seru adalah McDonald’s dibuka di Jakarta! Haha. Tahun 1991 kalau nggak salah dan lokasinya pas di bawah Hard Rock CafĂ©, jadi kalau lapar setelah disko atau lihat live music, tinggal turun aja karena McDonald’s buka 24 jam.

Lokasi Hard Rock Café Jakarta yang pertama. Photo: hardrockcafes.info.

Sarinah lantai 2, lokasi Hard Rock Café Jakarta yang pertama. Photo: hardrockcafes.info.

Nah, kalau mau merasa jadi socialita, kita bisa minum-minum cantik di Fountain Lounge-nya Grand Hyatt atau pergi ke Salsa Club di Kemang (jaman itu Reza Artamevia dan Adjie Massaid masih pacaran dan sering ke situ).

 

Jakarta awal 2000an

Kebetulan saya pindah ke Bali di akhir tahun 1999 sampai tahun 2007, tapi pastinya sering bolak-balik ke Jakarta (maklum LDR, hehehe), jadi yang saya ingat adalah kalau mau nongkrong, pastinya harus ke area Taman Ria Senayan. Di sana bisa stay lama, mulai dari makan di TGIF (restoran Thank God It’s Friday), trus ke NYC (New York CafĂ©) nonton live band dan lanjut ke Embassy (club) atau ke Manna House (atau Lava Lounge).

Dulu ke NYC salah satunya buat nonton grup ini nih, T-Five!

Dulu ke NYC salah satunya buat nonton grup ini nih, T-Five!

Saat datang ke Jakarta, tentu saya juga puas-puasin shopping, maklum saat itu Bali masih sepi mall, hihi. Yang ada cuma Matahari sama Ramayana aja di Denpasar. Nah, di Jakarta, mall-mall yang sampai sekarang masih ada, sudah mulai buka di dekade ini. Salah satu yang happening adalah CITOS, meskipun cari parkir di sana seperti cari jarum di jerami: Susi Pudjiastuti alias susah!

Satu lagi yang hits adalah.. radio. It was really something. Kalau nama kita disebut sama penyiar (misalnya karena request lagu), rasanya gimanaaa gitu. Banyak juga penyiar radio yang memulai kariernya di masa ini menjadi tenar sekarang sebagai selebriti. Radio perannya seperti teman kita, jadi nggak cuma buat dengerin lagu aja, tapi rasanya beneran ditemani setiap hari, padahal kenal sama penyiarnya juga nggak. 😀

 

Jakarta sekarang

Ngomongin Jakarta hari ini, pasti kita akan dengan gampang bilang tambah macet, tambah mahal, tambah penuh, tambah polusi (udara, suara, limbah, dll). Tapi hey, jangan lupakan yang bagus-bagus juga dong:

– Tambah nyaman karena banyak angkutan umum yang lebih bagus dari jaman dulu

– Banyak fasilitas yang mendukung orang-orang sibuk seperti kita, misalnya ojek, Gojek, delivery apa aja, tempat makan, tempat nge-print , tempat nongkrong yang buka 24 jam dan lain-lain.

– Dengan banyaknya mall, kita juga makin dimudahkan kalau mau cari apa-apa yang dekat dari rumah atau kantor.

– Sudah jarang mati lampu

– Banjir berkurang

– Dan masih banyak lagi yang lainnya, bisa dibaca di sini.

 

Saya lahir, besar, sekolah, cari uang di sini dan saya bangga jadi warga Jakarta. Kalau kamu?

Dirgahayu, kota tercinta. Nggak sabar melihat namamu bersinar di antara kota-kota besar lainnya di dunia.

Comments

  1. Jalan2Liburan
    Jalan2Liburan | Posted on June 17, 2017 at 1:36 am

    ya ampun seru banget ini postingannya, nostalgia abis ha ha ha
    Dari bubaran HRC terus lanjut ke BC Bar ya :-))
    Jakarta emang ga ada matinya euy!

Leave a Reply