Iwet Ramadhan, Sepenuh Hati Lestarikan Tradisi

no Comment

FOTO SAMSUNG NOTE 2 828

Muda, peduli, cinta budaya – di Indonesia jaman modern ini, sosok Iwet Ramadhan bisa dibilang langka. Memulai karirnya sebagai penyiar radio (dengan background sekolah arsitektur!), Iwet kini lebih dikenal sebagai entrepreneur dan desainer (TikShirt dan TikPrive), dan yang yang unik: tukang cerita batik. Secara konsisten titel ini dilakoninya selama 5 tahun, sejak awal TikShirt berdiri. Dengan kekeh juga ia mempromosikan bahwa batik adalah kisah, yang eksistensinya tidak bisa dinomorduakan. Buat saya, obrolan dengan Iwet di bawah ini menghangatkan hati. Kecintaan dan tekadnya melestarikan tradisi sungguh sangat menginspirasi.

Iwet selalu mengedepankan cerita dari batik. Bahkan buku pun judulnya ‘Cerita Batik’. Kenapa menurutmu ini penting? 

Masih banyak orang salah kaprah. Banyak yang masih beranggapan bahwa melestarikan batik itu cukup dengan membeli dan memakainya saja.

Nggak bisa dibilang salah sih, tapi masih kurang tepat. Batik tidak cukup hanya dibeli dan dipakai, akan tetapi proses pembuatannya, cerita tentang masyarakatnya, hubungannya dengan kehidupan sebuah budaya, harus juga dipahami.

UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia tak benda dikarenakan hal tersebut. Teknik, filosofi, dan cerita tentang masyarakatnya. Ada begitu banyak cerita yang bisa digali dari selembar kain batik, mulai dari cerita tentang teknik kuno menghias kain dengan cara merintang warna dengan malam, tentang berbagai macam simbol kehidupan yang dituangkan dalam ragam bentuk dan warna, sampai ke sejarah dan cerita tentang sebuah peradaban.

Itu sebabnya saya menyebutnya cerita batik. Harapannya, ketika orang sudah paham dengan ceritanya, proses membeli dan memakai batik bisa dilakukan dengan sadar.

Sebagai dewasa muda modern, kita punya kecenderungan untuk memadupadankan yang lama dengan yang baru. Dulu batik hanya dipakai di acara-acara formal, sekarang jauh lebih casual, bahkan dibikin t-shirt juga. Cara pakai pakaian tradisional pun mengalami pergeseran. Dulu stagen nggak boleh tampak dari luar, sekarang justru jadi salah satu aksesori. Generasi sebelum kita nggak selalu menerima ini dengan lapang dada. Bagaimana Iwet melihat hal ini?

Terus terang, saya juga kurang bisa menerima ini :)

Ternyata jauh didalam lubuk hati saya yang paling dalam, saya termasuk dalam generasi tua yang tidak suka proses modifikasi.

Alasannya, Indonesia terkenal sekali dengan kekayaan ragam budayanya. Nenek moyang kita menciptakan semua itu penuh dengan pemikiran dan menggunakan logika-logika sederhana namun sarat makna. Semua dibuat dengan alasan. Lalu kemudian masuk globalisasi, modernism dan segalau sesuatu yang mengatasnamakan kepraktisan. Kebaya dimodifikasi sedemikian rupa hingga bentuk aslinya hilang. Kain bawahan dipotong dan dijahit karena perempuan makin malas memakai kain dengan dibebet. Karena nge-wiron dianggap tidak praktis lalu kemudian kain dengan wiron tidak ada lagi. Atas nama kepraktisan, semua menjadi permisif.

Begitu juga dengan sanggul, karena dianggap tua, kuno dan tidak praktis, lalu kemudian sanggul ditinggalkan. Yang aneh adalah, kalau sanggul gelung tekuk dianggap ribet, kenapa semua kemudian memilih memakai french twist? Double standart. J

Conton lain, motif kain batik. Ada beberapa motif yang harus digunakan di kesempatan yang tepat, tapi karena semua permisif, motif slobok kemudian dipakai pada upacara perkawinan, padahal motif slobok itu buat nutup jenazah loh!

Nah, di situ kadang saya merasa sedih :) Pemahamannya nggak ada, sementara arus modernisme tidak terbendung. Nggak ada yang jagain. Makanya saya kuatir modernisme, dalam hal ini, akhirnya akan menghilangkan semua kekayaan adat dan tradisi yang kita miliki.

Baik dipakai seminggu sekali di kantor maupun bersantai di akhir pekan, sudah hampir 1 dekade batik menjadi pakaian sehari-hari. Kreasi dan gaya memakainya pun beragam. Dengan tetap menghormati budaya dan tradisi, apa basic dos and don’ts memakai batik?

Kenakan  sesuai dengan acaranya, kenali motifnya, gunakan hati nurani.

Batik Sogan, biasanya masuk dalam kategori kain adat. Kain adat adalah kain-kain yang punya aturan yang ketat mengikat. Biasanya digunakan untuk upacara-upacara adat. Maka sebaiknya pilihlah motif-motif yang aman.

Mau batik warna-warni dan lebih santai? Pilih batik pesisiran. Warna dan motifnya cantik, tidak terlalu mengikat.

Batik bukan hanya bisa dilihat sebagai kain atau pakaian, tapi bisa juga diihat sebagai benda seni. Buat pembaca ReeSays yang ingin punya batik yang sedikit lebih mahal, apa yang perlu diketahui?

Kain batik yang bagus itu bolak balik harus sama, detail yang sangat halus merupakan ciri dari kain batik yang dibuat dengan penuh ketelitian. Halus maksudnya adalah detail titik-titik yang rapat dan rapi, garis yang tidak mbleber, bentuk motif yang sempurna dan juga kain yang diproses terlebih dahulu sebelum dibatik.

Jumlah warna juga menentukan harga sebuah kain batik. Semakin banyak warnanya, semakin mahal batik tersebut, karena proses pembuatannya semakin sulit. Banyak warna di sini bukan maksudnya warna abstrak, melainkan grouping warna yang jelas.

 

Tergugah ingin tahu lebih banyak tentang batik? Dapatkan buku Iwet Ramadhan ‘Cerita Batik’ di berbagai toko buku dan di toko online seperti Scoop (klik di sini untuk membeli) dan Wayang Force (klik di sini untuk membeli).

 

 

 

 

Leave a Reply