Serunya ‘Indonesian Weekend’ di Los Angeles

no Comment

Buat yang sudah lama subscribe ReeSays, pasti tau kalau saya cinta anything Indonesian. Makanya kayaknya saya nggak bisa tuh tinggal di luar negeri karena nggak ada Nasi Padang (kalau pun ada biasanya rasanya nggak semantep yang ada di Indonesia), nggak ada ojek dan nggak bisa melakukan segala perawatan rambut, pijat, dll anytime karena semua serba mahal. Apa lagi ya kira-kira yang biasanya dirindukan orang Indonesia yang tinggal di luar negeri? Kontributor ReeSays dan sahabat saya, Sekar yang tinggal di Los Angeles (LA), punya cerita.

Betul yang dibilang Riana di atas. Tinggal di luar negeri, terutama di negara maju, biasanya menyenangkan karena negaranya bersih, langit cerah karena minim polusi, banyak taman, orang-orang tertib, tapi berani taruhan, orang Indonesia pasti kangen berbagai hal yang ‘Indonesia banget’ karena kebanyakan dari kita cintaaa banget sama bumi pertiwi yang alamnya sangat cantik, makanannya enak-enak, meski kadang ada hal-hal yang ngeselin, hihi.

Selain makanan, ojek dan ‘kemewahan’ bisa manggil mbok pijet ke rumah, ternyata yang saya rindukan setelah 2 tahun tinggal di LA adalah budaya Indonesia yang beragam, indah dan punya banyak kisah. Makanya saya senang banget ketika weekend lalu ada berbagai acara yang mengangkat soal Indonesia di sini.

 

Jumat sore, 28 April

Saya berkesempatan nonton film pendek Nia Dinata berjudul ‘Kebaya Pengantin’ yang merupakan bagian dari pemutaran kumpulan film pendek di ajang Southeast Asian Cinemas Research Symposium yang diadakan di kampus UCLA. Filmnya bagus banget! Saya dan para penonton lainnya impressed. Premisnya simple, alurnya jelas dan twist-nya itu loh, satu teater nggak ada yang nyangka saya rasa. Penasaran, kan? Hihi. Coba deh follow akun Twitter Teh Nia @tehniadinata dan pantau terus. Begitu ada info kalau film pendek ini (16 menit aja) diputar di Indonesia, sok deh nonton, jangan sampai kelewatan.

Pemutaran film dilanjutkan dengan diskusi dengan para filmmaker. Teh Nia duduk paling kanan.

Pemutaran film dilanjutkan dengan diskusi dengan para filmmaker. Teh Nia duduk paling kanan.

Suksesnya film ini juga bisa terlihat dari animo penonton saat diskusi. Pertanyaan kebanyakan ditujukan ke Nia Dinata karena film ini bikin orang penasaran ingin tahu lebih banyak tentang budaya, nilai dan isu-isu yang ada di Indonesia. Sebagai orang Indonesia, bangga dan senang deh saya menyaksikannya.

 

Jumat malam, 28 April

Beres dari nonton film, saya dan seorang teman lanjut ke acara CalArts World Music & Dance Festival 2017 di mana seorang maesto tari Indonesia akan tampil, yaitu Didik Nini Thowok! Wah, kesempatan berharga banget kan bisa melihat seorang seniman Indonesia diapresiasi oleh banyak orang di luar negeri?

Begitu acara mulai, hal pertama yang membuat saya terharu adalah tim gamelannya 50% orang bule :’) Duh, bener deh, melihat mereka mainin alat musik Jawa dan menyinden dengan sepenuh hati itu bikin hati saya seerr gitu. Saya langsung membayangkan mereka latihan dengan konsisten untuk bisa perform dengan baik dan sesuai dengan ketentuan adat dan tradisi Indonesia. Luar biasa komitmennya (sementara kita suka cuek aja ya sama budaya sendiri, cedih).

Tim gamelan yang terdiri dari 50% orang Indonesia, 50% orang asing, berdiri memberikan salam kepada penonton yang hadir.

Tim gamelan yang terdiri dari 50% orang Indonesia, 50% orang asing, berdiri memberikan salam kepada penonton yang hadir.

Setelah itu, acara pun dimulai dan satu per satu tarian ditampilkan. Berikut beberapa highlight dari malam itu:

Bedhaya Pangkur. Diciptakan oleh Raja Pakubuwono IV di akhir abad 18, tarian ini menceritakan soal kecantikan putri-putri raja.

Bedhaya Pangkur. Diciptakan oleh Raja Pakubuwono IV di akhir abad 18, tarian ini menceritakan kecantikan putri-putri raja.

Bintang malam itu: Didik Nini Thowok membawakan signature dance-nya Dwimuka Jali atau tari topeng dengan dua karakter, dari Jawa dan dari Bali. Tindak tanduknya yang lucu, yang juga menjadi cirikhasnya, bikin penonton tertawa.

Bintang malam itu: Didik Nini Thowok membawakan signature dance-nya Dwimuka Jali atau tari topeng dengan dua karakter, Jawa dan Bali. Tindak tanduknya yang lucu, yang juga menjadi cirikhasnya, bikin penonton tertawa.

Didik Nini Thowok tampil bersama bintang tamu lainnya, Maria Darmaningsih, yang adalah salah seorang senior di dunia tari tradisional dan kontemporer di Indonesia (yang kebetulan adalah tante saya, hihi promosi dikit).

Didik Nini Thowok tampil bersama bintang tamu lainnya, Maria Darmaningsih, yang adalah salah penari senior di dunia tari tradisional dan kontemporer di Indonesia (yang kebetulan adalah tante saya, hihi promosi dikit).

Show malam itu diakhiri oleh pertunjukkan wayang kulit yang dibawakan dalam bahasa Inggris. Seru deh pokoknya. Sebagai orang Indonesia yang rindu melihat berbagai pertunjukan budaya sendiri, malam itu saya puas!

 

Sabtu malam, 29 April

Ini dia penutupnya: Nonton film ‘Ini Kisah Tiga Dara’, satu-satunya film Indonesia yang masuk ke Los Angeles Asian Pacific Film Festival tahun ini.

Saya pribadi senang banget karena film Indonesia jarang diputar di sini dan saya sudah penasaran mau nonton sejak film ini diputar di Indonesia. Saya suka filmnya. Lucu dan enjoyable. Para penonton juga ketawa di adegan-adegan tertentu (terutama adegan-adegan yang cheesy-nya keterlaluan, tapi memang ini yang bikin menghibur). Trus lihat Rio Dewanto, yaudahlahya, siapa sih yang nggak langsung meleleh? Hahaha.

Nia Dinata di sesi Q&A yang diadakan setelah pemutaran ‘Ini Kisah Tiga Dara’

Nia Dinata di sesi Q&A yang diadakan setelah pemutaran ‘Ini Kisah Tiga Dara’

 

So that’s a little story from an ‘Indonesian weekend’ in LA. Intinya, bersyukurlah tinggal di Indonesia karena hal-hal yang saya sebutkan di atas jadi sangat berharga ketika kita tinggal jauh dari ‘rumah’. Artinya, dukung film Indonesia yang ada. Mainlah ke bioskop saat film Indonesia diputar (terutama kalau filmnya berkualitas ya, bukan horor pocong-pocongan). Selain itu, sesekali datangilah Gedung Kesenian Jakarta atau teater mana aja yang sedang mempertunjukkan tarian Indonesia atau pertunjukan seni lainnya.

Salam rindu, Indonesiaku!

Leave a Reply