Indonesian Habits We Lost When We Moved Abroad

2 Comments

Dalam hidup sehari-hari, kita pasti nggak lepas dari kebiasaan-kebiasaan – yang saking sudah terbiasanya, rasanya otomatis aja gitu, kita melakukannya tanpa berpikir lagi. Biasanya kita baru ngeh kalau suatu hal adalah kebiasaan yang Indonesia banget ketika kita liburan ke luar negeri di mana nilai, budaya dan aturannya berbeda.

Perbedaan kebiasaan ini makin ketara ketika kita pindah ke luar negeri. Tinggal lama di tempat baru membuat hidup di beberapa bulan pertama penuh dengan penyesuaian. Namun setelah sekian lama, kebiasaan-kebiasaan yang awalnya asing pun jadi terasa akrab karena tanpa disadari mereka sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Penasaran nggak, kalau suatu hari kamu pindah ke luar negeri, kebiasaan Indonesia apa yang perlahan akan kamu tinggalkan? Yuk, cari tahu dari 3 sahabat saya ini.

 

Yurika Jakobs

Tinggal di Bangkok, Thailand, selama 15 tahun.

Yang paling disukai dari Bangkok:

Keamanannya. Aku nggak pernah merasa kuatir atau takut kalau bepergian di malam hari, meski dengan kendaraan umum seperti taksi, kereta api ataupun jalan kaki. Bangkok is a very convenient city. Semua serba ada; dari big mall, park, tempat rekreasi, good transportation, great places buat kuliner dari bermacam macam negara, great roof top places, makanan kaki lima yang rasanya ngga kalah jauh dari bintang lima, dan banyak lagi.

Bangkok at night. An exciting city with good food.

Bangkok at night. An exciting city with good food.

Thailand secara umum sistemnya sangat bagus. Pemerintah Thailand berusaha memperkenalkan sistem yang mudah untuk dipergunakan dan dinikmati oleh masyarakatnya. Seperti kalau mau cari surat kelakuan baik, tidak dikenakan biaya, dan kalau tidak mau menunggu bisa dikirim ke rumah tanpa biaya. Yang paling saya suka juga kalo mau perpanjang surat-surat mobil, semua sistemnya pake drive through yang bisa selesai dalam 1 menit dan langsung bisa ditempel di kaca mobil. Cus deh, nggak pake lama.

Yang paling menonjol juga budaya antrinya. Di mana saja orang tetap antri. Masyarakatnya sangat mengerti tentang budaya ini.

Kebiasaan Indonesia yang berubah sejak tinggal di Bangkok:

1. Cipika-cipiki

Greetings di Thailand tidak pake jabat tangan atau cium pipi kanan-kiri seperti di Indonesia. Mereka semua menunjukkan respect dengan Wai. Jadi kadang kalau kenalan sama orang baru di negara lain, saya juga suka ikutan greetings dengan Wai.

Wai, salam ala Thailand.

Wai, salam ala Thailand.

2. Membayar tukang parkir

Di Thailand umumnya orang memberi pertolongan tidak mengharapkan imbalan. Yang simple aja deh, cari parkir. Mereka akan membukakan pintu mobil, lari-lari cariin kita parkir atau sampai harus dorong-dorong mobil lain segala, tapi sesudahnya mereka nggak menunggu untuk diberi tip. Mereka hanya memberikan kita hormat dan kembali ke tugas masing-masing.

 

Sekar Sosronegoro

Tinggal di Los Angeles, Amerika Serikat, selama 2.5 tahun.

Yang paling disukai dari Los Angeles: 

Seperti yang kita sukai saat berlibur ke negara maju, yang sangat saya nikmati di sini adalah sistemnya yang rapi. Orang tertib pada aturan dan nggak ada yang berusaha melanggar aturan kalau nggak ada yang melihat. Selain itu, saya juga suka udaranya. Datang dari negara tropis seperti Indonesia membuat saya nggak betah berlama-lama di udara dingin, maka California cocok buat saya. Di musim panas, panasnya sama seperti Jakarta tapi tanpa kelembapannya, jadi kita nggak gampang keringetan. Di musim dingin, dinginnya nggak seperti di New York. Di luar dua musim itu, ada musim semi dan musim gugur yang udaranya pas banget: matahari terang bersinar dengan udara yang adem semilir seperti di Puncak.

Kebiasaan Indonesia yang berubah sejak tinggal di Los Angeles:

1. Cipika-cipiki

Karena Yurika mulai dari kebiasaan yang Indonesia banget ini, saya juga deh, hihi. Kalau ketemu teman, di sini orang sun pipi cuma satu kali (biasanya cipiki aja). Suka lucu sih kalau ketemu teman Indonesia yang juga tinggal di sini karena kita nggak pernah tau dia akan praktekkan kebiasaan yang mana. Kadang kita mau praktekkan gaya Amrik, dia mau gaya Indonesia. Atau sebaliknya. Yang ada udahannya suka jadi awkward atau bikin ketawa, hahaha.

2. Makan malam jam 7 atau 8 malam

.. karena di sini makan malam adalah jam 6 sore! Hihi. Beneran loh, saya juga kaget awalnya, kirain makan malam jam 6 cuma ada di film-film aja. Nggak hanya itu, kadang kalau ada acara tertentu, misalnya ulang tahun anak atau acara keluara lainnya, makan malam bisa dipercepat jadi jam 4:30 sore. Aneh kan rasanya? 😀

Saat acara keluarga, nggak jarang diadakan early dinner yang setidaknya dimulai jam 5 sore.

Saat acara keluarga, nggak jarang diadakan early dinner yang setidaknya dimulai jam 5 sore.

3. Memanggil waiter di restoran

Di sini, waiter yang akan datang ke meja kita dan memanggil waiter akan dianggap tidak sopan. Lengkapnya bisa dibaca di sini.

4. Nggak ngomong apa-apa saat seseorang bersin

Di Indonesia, setidaknya di kota besar seperti Jakarta, bilang, “Bless you” saat orang lain bersin cuma buat gegayaan aja karena kita mau kebarat-baratan 😀 Kalau di Amrik atau di negara barat, ini keharusan. Nggak bilang “Bless you” saat orang lain bersin akan membuat kita terlihat sangat cuek dan nggak pedulian.

5. Tidak basa-basi sama penjual ketika membeli barang

Di Indonesia, paling mentok saya bilang “Halo” atau “Halo, mbak” saat mau bayar barang di kasir. Di sini, saat kita mau beli barang atau mau bayar di kasir, ‘wajib’ hukumnya untuk berbasa-basi.

Biasanya ini percakapan singkat yang terjadi:

“Hey, how are you?”

“I am good, thank you. And you?”

“I am fine, thank you.”

Trus baru deh transaksi terjadi. Percakapan bisa dimulai dari pembeli dulu atau penjual dulu, tapi yang pasti itu skripnya. :)

(Btw, kebiasaan ini nggak sama ya di berbagai belahan Amerika. Seperti di New York misalnya, mereka malah prefer untuk nggak basa-basi karena mereka sangat sibuk dan kerja begitu cepat.)

6. Bayar cash

Di Amerika, semua bisa dibayar pakai kartu kredit. Iya, bahkan bayar parkir yang recehan pun bisa pakai kartu. Makanya jangan heran kalau orang Amrik jarang bawa yang cash.

Contohnya saya, saat menjawab pertanyaan wawancara ini, literally hanya punya $1 di dompet, hihi.

Contohnya saya, saat menjawab pertanyaan wawancara ini, literally hanya punya $1 di dompet, hihi.

 

Amalia Sari

Tinggal di Groningen, Belanda, hampir 1.5 tahun.

Yang paling disukai dari Groningen:

It’s a student city. University of Groningen salah satu universitas terbaik di Belanda dan Eropa jadi kotanya terasa muda, kreatif dan hidup terus! Di mana-mana banyak anak muda jadi lifestyle dan neighborhood-nya juga aktif. Semua ada, but not too cosmopolitan and lots of nature! Especially the water in canals and its boats.

Canals boats in city centrum

Canals boats in city centrum

Kebiasaan Indonesia yang berubah sejak tinggal di Groningen:

Kebiasaan early dinner dan nggak manggil waiter sama seperti cerita Sekar di LA, selain itu:

1. Cipika-cipiki

Kembali kita mulai dari kebiasaan yang satu ini. Kalau di LA hanya cipiki saja, di sini kami cipika-cipiki-cipika lagi alias malah tiga kali, haha.

2. Big lunch

I miss my big Indonesian lunch! Di sini saat lunch makannya sedikit-sedikit doang dan waktunya pendek.

3. Mandi

Memang pemalas mandi sih jadi tersalurkan karena di sini nggak harus, hihi. Di sini mandi jadi 2 hari sekali, kalau winter malah 4 hari sekali karena udara bersih jadi ke mana-mana nggak kotor.

4. Bepergian dengan mobil pribadi atau taksi

Di sini ke mana-mana naik sepeda. Easy, cheap and healthy.

Me and my bike

Me and my bike

5. Buang sampah

Di Jakarta sampah rumah tangga dijadikan satu, di sini dipisah. Green bottle, white bottle, brown bottle, plastic, paper, green stuff sampai baterai (chemical stuff).

6. Nongkrong di café atau restoran

Kalau kumpul-kumpul di sini semua bawa makanan sendiri-sendiri alias potluck dan seringnya ngumpul di rumah, jadi jarang ke café atau restoran.

 

Gimana, menarik juga ya kehidupan mereka dengan kebiasaan barunya? Kalau kamu juga pernah tinggal di luar negeri dan ada kebiasaan yang berubah, share di bawah ini, ya.

Comments

  1. Diana Betts
    Diana Betts | Posted on August 24, 2017 at 8:38 pm

    Buat saya (yg tinggal di Jepang sebentar, Sydney sebentar, 10 thn Singapore dan hampir 4thn di Brisbane)
    1. Ngemall
    Selama di Singapore kami tinggal di tengah Orchard Rd. yang buka sampai malam, dan di Indonesia nge mall sih gak ada matinya, waktu di Jepang paling nggak masih ada toko yg buka sampai larut malam kalau kita lupa sesuatu. Sejak di Brisbane kami sering kecolongan karena lupa bahwa toko tutup jam 5 dan kalau weekend malah tutup jam 3 (alhamdullillah sekarang weekend pun supermarket tutup jam 5..haha)
    2. Di supirin dan asisten rumah tangga
    Kebiasaan yang paling saya kangenin adalah di supirin karena sekarang justru saya yang jadi supir “anak majikan”. Saya juga suka kangan sama si Mbak kami di Singapore karena sekarang tugas2 si Mbak harus di bagi sekeluarga termasuk si kecil usia 7 tahun yang bertugas mengosongkan tong sampah, menata meja makan dan mengangkat baju kering….duuuuh Mbak we miss you:-)
    3. Kebiasaan konsumtif atau ngafe/nongkrong
    Tidak banyak alasan maupun tuntutan untuk mengikuti trend sehingga kebiasaan bela beli atau nongkrong2 juga berubah total menjadi outdoor picnic, sports, dan potluck bersama teman. Bahkan ulang tahun anak menjadi super simple dengan snack dan kue supermarket di taman umum gratis. Secara waktu nya juga gak ada buat ngafe dan kalaupun ada waktu special buat date night biaya baby sitter nya bisa buat beli baju di ReeIndonesia.com…sayang kaaaan

Leave a Reply