Indonesia Bangkit

no Comment

Kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei tapi ngaku aja deh, nggak banyak dari kita yang meluangkan waktu untuk melakukan refleksi dari makna hari bersejarah ini. Paling mentok adalah ngepost di quote yang dirasa pas di media sosial and that’s it, we move on with our day. It’s sad but true.

Tapi tahun ini rasanya lain.

Kasus Pak Basuki, gubernur Jakarta yang dipenjara karena ‘penistaan agama’ kemarin rasanya jadi seperti blessing in disguise. Merasa bahwa hukuman itu tidak adil, banyak yang akhirnya bersuara dan memohon untuk keadilan ditegakkan. Berbagai kota di seluruh Indonesia, bahkan berbagai kota dunia, menyelenggarakan malam solidaritas dengan menyalakan lilin, menyanyikan lagu-lagu nasional yang liriknya sarat menggambarkan harapan kita terhadap negeri ini, berdoa untuk Pak Basuki dan berdoa untuk keselamatan NKRI.

Tjahaja Purnama. Sesuai dengan cahaya bulan dan semua lilin yang menyala malam ini.

Tjahaja Purnama. Sesuai dengan cahaya bulan dan semua lilin yang menyala malam ini.

Menyalakan lilin bersama teman-teman. Kami berbeda-beda tapi malam itu menyatukan hati berdoa untuk seorang pelayan publik dan untuk Indonesia.

Menyalakan lilin bersama teman-teman. Kami berbeda-beda tapi malam itu menyatukan hati berdoa untuk seorang pelayan publik dan untuk Indonesia.

Betul, semangat yang muncul akhirnya bukan untuk membela perorangan lagi, melainkan semangat untuk bersatu dan menegakkan hak dan kewajiban seorang warga negara seperti yang diakui dalam Pancasila dan UUD 1945.

Malam solidaritas di Vancouver. Photo: Sergio Lopez & Jakarta Globe.

Malam solidaritas di Vancouver. Photo: Sergio Lopez & Jakarta Globe.

Dari Paris. Photo: Maria Tobing.

Balon merah-putih dan bendera Indonesia di Paris. Photo: Maria Tobing.

Semangat keadilan dari Berlin. Photo: Maria Tobing.

Semangat keadilan dari Berlin. Photo: Maria Tobing.

Kita rindu kerukunan antar umat beragama, rindu penegakkan hukum yang adil, dan yang pasti rindu akan keadilan sosial bagi seluruh (bukan sebagian) rakyat Indonesia. Singkatnya, kita bangkit.

Saya sendiri hadir di malam solidaritas yang diadakan di Tugu Proklamasi. Buat saya pribadi, yang bikin merinding dan melongo di acara itu adalah:

– The power of social media – yang kalau dipakai untuk niat baik (bukan buat menyebarkan hoax, kebencian atau nyinyiran), bisa ngumpulin orang segitu banyak tanpa pakai daftar atau koordinasi.

– Bisa banget ngumpulin orang segitu banyak tanpa iming-iming uang, sembako atau kaos, kalau niatnya baik dan untuk kesatuan NKRI.

– Melihat banyaknya masyarakat Indonesia yang keturunan Tionghoa ikut serta dalam aksi damai, mengatakan bahwa mereka nggak beda sama kita semua. Untuk pertama kalinya mereka nggak mau jadi minoritas atau diam saja dan nggak takut untuk ikut menyuarakan sikap mereka dengan datang ke acara tersebut.

– Kita bisa berkumpul untuk menyuarakan harapan dengan tertib, tidak pakai caci maki dan tidak anarkis.

– No more silent majority, itu yang paling penting.

“Indonesia

Di sana tempat lahir beta

Dibuai dibesarkan bunda

Tempat berlindung di hari tua 

Sampai akhir menutup mata.” 

Semoga bangsa Indonesia selamanya tetap utuh dan selalu dilindungi.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional!

Leave a Reply