#BaladaEntrepreneur: “How to Start Your Business – Part 1: Menentukan Ide Bisnis”

6 Comments

idebisnis3

 

Kalau suatu hari saya membuat FAQ terhadap diri saya sendiri, pertanyaan dan percakapan di bawah ini akan jadi salah satu isinya. Ini biasanya terjadi saat saya sharing di depan publik mengenai cara memulai bisnis:

Q (Ree): Apa visi kamu 5-10 tahun ke depan?

A: Mau punya bisnis sendiri

Q: Bisnis apa?

A: Belum tau sih. Menurut Mbak Riana apa?

Duarr. Biasanya kalau itu terjadi, saya langsung bilang kalau saya bukan tukang ramal atau paranormal, jadi mana tau bisnis yang tepat dijalani untuk setiap orang?

Lalu biasanya wajah penanya akan bingung dan saya akan menjawab lebih serius yaitu dengan membagi rumus penting dalam hidup saya:

“Mulailah dengan apa yang kamu suka dan kamu mahir.”

 

Kenapa harus SUKA dan MAHIR?

Karena kalau hanya SUKA aja, saya pikir nggak perlu jadi entrepreneur. Kalau kebetulan keadaan keuangan kita baik, jadi investor aja. Jadi nggak perlu pusing mikirin karyawan, operation, jualan, dll.

Sebaliknya, kalau MAHIR aja tapi nggak suka, saya kasih tau aja ya: Capek, Bu. Beneran deh. Membangun bisnis itu nggak gampang. Kalau masa-masa yang membuat frustrasi itu datang dan kita nggak suka sama apa yang kita kerjakan, kita akan dengan mudah menyerah. Tutup toko.

Kalau nggak percaya, coba ingat-ingat entrepreneur yang bisa survive di saat bisnis diterpa cobaan atau bisa bertahan di waktu yang lama. Dijamin mereka adalah orang-orang yang passionate dengan bisnisnya dan mahir mengerjakannya. Ringkasnya, kalau pun timnya bubar, mereka bisa bertahan karena mereka bisa mengerjakan dan menjalankannya sendiri.

Jadi apa yang harus dilakukan biar ketemu ide bisnis yang cocok untuk kita jalankan?

  1. Buat daftar hal-hal yang kita SUKA
  2. Dari daftar SUKA itu, kasih tanda hal-hal yang kita MAHIR

Kita ambil contoh kasus saya sendiri. Saya punya ketertarikan terhadap berbagai hal, setidaknya ada 4: makan, kecantikan, jalan-jalan dan belanja. Coba kita bedah satu per satu.

 

Makan

Makan biasanya erat dengan masak. Apa saya bisa masak? Lumayan. Apa saya mau masak setiap hari? Ini jawabannya saya tau dengan pasti: tidak.

Maka kalau mau punya restoran misalnya, saya harus mempekerjakan koki atau pemasak. Ini pun cocok-cocokan, loh. Kalau nggak nemu yang cocok, berarti saya harus terus nyari? Kalau koki andalan resign, tim saya bisa jadi pincang setidaknya untuk sementara waktu. Ini namanya ketergantungan – dan saya merasa nggak nyaman.

 

Kecantikan

Semua teman saya (atau orang yang follow akun Twitter, Facebook atau Path saya) tau kalau saya addicted to beauty. Saking seringnya ke salon dan me-review produk-produk kecantikan, mereka yakin betul kalau saya paling cocok buka salon!

Kenyataannya?

Rambut saya selalu di-blow tapi saya nggak bisa mengerjakan rambut orang.

Saya suka make up tapi nggak bisa make up-in orang.

Jadi rambut dan make up, 2 service paling basic di salon, saya nggak punya proper basic skill-nya. Ujung-ujungnya akan ada terlalu banyak hal yang harus dipikirkan dan disiapkan. Saya nggak yakin saya bisa kerja efektif kalau situasinya seperti ini.

 

Jalan-jalan

Ini juga pilihan yang banyak yang banyak menghasilkan tuduhan :) Saya memulai karir di bidang pariwisata, totalnya selama 16 tahun. Pekerjaan saya dulu mengajari saya banyak sekali hal dan saya pun dikenal orang lewat pekerjaan ini. Bicara soal tempat wisata, saya selalu passionate. Lagian siapa sih yang nggak suka jalan-jalan?

Tapi mari pikirkan jenis pekerjaannya. Teman saya Amalla Vesta (@SwankyTraveler) adalah seorang travel consultant. Apa saya berminat menjadi seorang konsultan jalan-jalan?

Buat yang belum kebayang, pekerjaan seorang travel consultant pada dasarnya adalah mengurusi kebutuhan jalan-jalan orang, mulai dari riset tempat yang dituju (yang harus diriset buanyak loh) sampai melakukan berbagai booking.

Nah berhubung saya itu nggak begitu suka buat googling dan cari-cari harga pesawat, tour, dll, nggak mungkin lah yaaa jadi travel consultant.

 

Belanja

Ini yang terakhir dan yang ini saya mahir! Kenapa saya yakin kalau saya mahir? Tiap kali shopping, saya nggak perlu teman. Bahkan saya bisa belanja lebih banyak kalau pergi sendiri. Ini perbedaan mendasar dengan passion-passion saya yang lain. Di sini saya independent, tidak tergantung dengan orang lain. Saking seringnya belanja dan punya taste yang bisa dipertanggungjawabkan (ehem), banyak teman yang titip ke saya alias saya mulai jadi professional shopper. Itu awalnya, sebelum akhirnya saya membuat fashion online shop saya sendiri.

 

Apa langkah selanjutnya? Menurut saya ada 1 elemen penting yang harus kita pahami dan kerjakan sebelum kita benar-benar terjun ke dunia bisnis, yang akan saya jelaskan dalam #BaladaEntrepeneur “How to Start Your Business –Part 2”. Nantikan ya!

Comments

  1. Icha
    Icha | Posted on October 22, 2014 at 7:30 pm

    So inspiring

  2. Kalo cuma suka, gausah jadi Pengusaha! |
    Kalo cuma suka, gausah jadi Pengusaha! | | Posted on October 13, 2015 at 8:07 pm

    […] Sumber : #BaladaEntrepreneur: “How to Start Your Business – Part 1: Menentukan Ide Bisnis” […]

  3. Selamat Datang di Era Women Entrepreneur! | ReeSays
    Selamat Datang di Era Women Entrepreneur! | ReeSays | Posted on April 21, 2016 at 2:44 am

    […] pesan saya buat cewek-cewek yang ingin memulai usaha, mulai deh dengan apa yang kamu suka dan mahir. Seenggaknya walaupun capek dan waktu tidur berkurang, kita mengerjakannya dengan suka […]

  4. Honey Josep
    Honey Josep | Posted on November 16, 2016 at 11:38 am

    keren!

Leave a Reply