Him & Her: Four Signs He’s (and She’s) the One

no Comment

he's the one

Is he the one? Is she the one? Pertanyaan ini biasanya mulai muncul ketika hubungan dengan pasangan sudah berjalan cukup lama, di mana artinya kita merasa sangat mengenal pasangan, baik tau hal-hal baik maupun hal-hal yang kurang menarik darinya.

Wajar. Manusia nggak ada yang sempurna. 80% rasanya cocok, tapi yang 20% kadang membuat kita bertanya-tanya: Sepadan nggak ya?

Untuk yang lagi mengalami dilema ini, coba simak obrolan ReeSays dengan Ligwina Hananto, Meira Anastasia dan Hilbram Dunar tentang pasangan masing-masing dan lihat apa dia punya quality di bawah ini.

 

1. He/she makes you a better person

Sadar nggak sempurna membuat kita ingin selalu mencoba untuk jadi manusia yang lebih baik. We all want to be better persons. Hal ini diungkapkan Meira Anastasia saat bicara tentang suaminya, stand up comedian Ernest Prakasa. “Saya belajar banyak dari dia. Dia pekerja keras dan nggak pernah mengeluh. Mungkin karena saya anak bungsu, saya nggak pernah merasa harus berusaha atau bekerja lebih keras. Saya mulai belajar untuk jadi sebaliknya dari Ernest. Dia yang ngajarin bahwa saya harus lebih tough”.

Meira: “Ernest ngajarin saya untuk jadi lebih tough”.

Meira: “Ernest ngajarin saya untuk jadi lebih tough”.

Caption: Meira: “Ernest ngajarin saya untuk jadi lebih tough”.

Hal serupa juga dirasakan penulis, MC dan presenter Hilbram Dunar dari hubungannya dengan Denny Dunar, istrinya, “I became a much better person, with patience and kindness.”

 

2. You learn something from him/her

“He’s a very committed person,” kata perencana keuangan Ligwina Hananto (Wina) ketika diminta mendeskripsikan apa yang membuatnya yakin bahwa Dondi Hananto, suaminya selama 15 tahun, adalah the one. Rasa kagum terhadap pasangan atas hal-hal yang dilakukannya atau menjadi prinshipnya penting dalam sebuah hubungan. Punya pasangan yang berpikir positif dan punya semangat hidup yang tinggi nggak hanya bisa membuat hubungan jadi lebih baik, tapi juga jadi lebih seru dan bertujuan. “He always knows what he wants to achieve,” tambah Wina.

 

3. “You complete me”

Nggak salah memang ketika Jerry Maguire (Tom Cruise; Jerry Macguire 1996) mengatakan ini ke Dorothy (Renee Zellweger). Banyak dari kita yang sependapat bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan, maka kita menghabiskan banyak waktu untuk mencari siapa yang paling tepat – dan ketika kita bertemu dengan seseorang yang sangat mengerti, punya pikiran yang sejalan dan punya perasaan yang sama, kita seakan menemukan potongan puzzle yang selama ini hilang. “I can’t live without her, I feel that when she’s away,” kata Hilbram tentang Denny. Sedangkan Meira merasa, “Bersama Ernest, saya merasa lengkap dan nggak butuh orang lain”. Aww sweet.

“I can’t live without her”. Hilbram merasa Denny melengkapi hidupnya.

“I can’t live without her”. Hilbram merasa Denny melengkapi hidupnya.

 

4. Last but not least: Learn not only from the person but also from the relationship.

Don’t stop learning

Meira mengajak kita untuk tetap realistis dalam membina hubungan. “Mau selama apapun hubungannya, kita nggak akan pernah bisa menyelami karakter pasangan seutuhnya dalam satu waktu”. Menurutnya, meski sehari-hari bersama, akan ada saat-saat di mana kita menyadari bahwa ada hal baru yang kita pelajari, “Sebaliknya, ada banyak hal yang baru kita sadari tentang diri sendiri yang disadarkan oleh pasangan kita. Di sini keduanya bisa saling membantu untuk menjadi better person.”

Grow together

“After 19 years together, we always find new things to talk about,” kata Wina berbagi. Setelah beberapa lama bersama, hubungan pasti berubah, karena kita secara individu juga berubah. Tantangan mulai terasa ketika kita dan pasangan mengalami personal growth-nya masing-masing, maka sangat penting untuk bisa tumbuh secara personal, bersama-sama. “This is important so no one is left behind,” sambungnya.

Grow together adalah salah satu kunci kelanggengan hubungan Wina dan Dondi.

Grow together adalah salah satu kunci kelanggengan hubungan Wina dan Dondi.

Realize that love is the whole package

Seperti manusia, nggak ada hubungan yang sempurna, karena isinya 2 individu yang meski punya niat baik, tetap punya ego dan kekurangan. Di sini Hilbram mengingatkan bahwa cinta harus dilihat secara menyeluruh, bahwa kita tidak bisa memilih hal-hal yang menyenangkan saja. Kita harus ambil semua, sepaket.

“Love is beautifully shaped with all the scratch and shine”, tutupnya.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply