Beda Tipis Antara Nyinyir dan Iri

no Comment

Suatu hari saya melihat postingan ini dari seseorang yang saya sangat kagumi dan pas baca rasanya jleb banget!

nyinyir copy

Oke, saya ulangi apa yang beliau posting:

Unfriend

Unfollow

Unshare

the people in your social media list if you can’t handle your heart

whenever you see blessings in their lives

Nah, coba jawab jujur di dalam hari, dari 24 jam sehari, berapa lama sih waktu yang kita habiskan untuk melihat atau meng-update media sosial? Ngaku aja deeeh.

Siapa aja yang kita follow? Apakah semua orang yang kita kenal? Alias teman-teman aja atau banyak juga orang-orang lain yang kita nggak kenal secara pribadi tapi berasa kenal karena kita sering melihat apa yang mereka post?

Sebenarnya apa sih tujuan kita posting di media sosial? Ada yang mau promosi barang jualan, ada yang mau branding (dari brand barang sampai personal branding) tapi dari yang saya lihat, paling banyak ya buat pamer.

Pamer itu ada yang pamer norak, pamer ngeselin, pamer menginspirasi tapi ya apapun itu, tetap pamer lah. Ada yang postingannya:

Liburan terus

Belanja terus

Mesra-mesraan terus

Makan terus tapi nggak gemuk-gemuk

Anaknya melulu

Nasihat melulu

Berlian dan tas-tas melulu

Mobil baru melulu

Dan sejuta melulu lainnya

Udah jujur aja, ini saya nulis ini juga sambil mesem-mesem sendiri kok :)

Apa akibatnya? Biasanya kita jadi nyinyir atau mencari pembenaran diri. Contohnya:

“Ih, gue sih kalo punya duit segitu nggak akan beli tas mahal banget kayak gitu (misalnya komentar untuk tas dengan merk H). Buat apa sih? Paling juga cuma buar pamer. Mending duitnya buat beli hal lain yang lebih bermanfaat.”

Kalo saya sih bingung ya baca komentar seperti ini. Kan terserah orang toh mau beli apa dengan uangnya, dan terserah kita juga mau beli apa kalau kita punya uangnya. Tapi kan nggak usah ngerendahin orang lain cuma karena dia mampu beli dan kita nggak.

Contoh lain:

“Jalan-jalan mulu kerjanya, ntar anaknya sama siapa tuh? Ditinggal terus. Gue sih mendingan nggak pergi liburan daripada ninggalin anak.”

Ini lagi. Kan anak orang lain ya, bukan anak kita. Mungkin orang itu beruntung punya support system di keluarganya, seperti suaminya dengan senang hati ngurusin anak atau nenek/kakeknya happy banget kalau dititipin cucunya, atau simply dia punya anak yang nggak rewel kalau ibunya pergi traveling. Cuma karena kamu nggak bisa liburan karena nggak bisa ninggalin anak, ya nggak usah nyinyir gitu dong ya, hehehe.

Yang harus kita ingat, media sosial itu tetap media, yang kontrol untuk melihat sepenuhnya ada di kita. Sebaliknya, kontrol apa yang mau di-share sepenuhnya punya si pemilik akun.

Buat saya, kita nggak pernah tau rejeki, jalan hidup, talenta, kehidupan dan perjuangan orang lain. Kalau akhirnya kita jadi nyiniyir terus melihat apa yang mereka post, artinya kita belum siap melihat mereka “kesannya” lebih bahagia dari kita. Jadi kalau kita lama-lama jadi nyinyirisme yang akhirnya menjurus ke iri hati, lebih baik unfollow dulu aja sampai kita bisa menerima berkat yang orang lain punya.

Selamat menjaga hati.

Leave a Reply