Aryo Indarto: “Kopi dan Interaksi, Dua Kunci Coffee Shop Yang Asik”

no Comment

Buat para pecinta kopi, tau nggak sih kalau besok, 1 Oktober, adalah International Coffee Day? Karena itu, saya mau share obrolan dengan seorang sahabat, Aryo Indarto, yang saya tau banget sangat passionate sama kopi. Nggak hanya cuma suka minum aja, tapi akhirnya sampai bikin tempat ngopi yang jadi salah satu must-visit place saya kalau ke Bali.

Conversation over coffee with Aryo

Conversation over coffee with Aryo

1. Hai, Aryo. Ceritain dulu dong, gimana awalnya bisa suka sama kopi?

Semua berawal dari waktu kecil saya suka diajak ibu ke pasar untuk belanja, termasuk beli kopi. Kopi yang dibeli masih berbentuk biji, lalu pemilik toko menimbang dan menggiling kopi untuk dibungkus, untuk kami bawa pulang. Momen menggiling kopi ini menjadi momen yang selalu saya tunggu karena aroma kopi segera mengisi toko dan buat saya seperti aroma of heaven :)

2. Lalu, apa yang bikin Aryo akhirnya mau serius masuk ke industri kopi?

Kebetulan saya pernah menempuh pendidikan di Australia dan Swiss, dua negara yang penduduknya amat sangat menikmati kopi dan kopi adalah bagian dari keseharian. Pengalaman ngopi di dua negara ini melekat erat di benak saya, di mana tempat ngopi asik itu bukan hanya soal decor yang mewah, tapi tempat di mana interaksi antara barista dan pelanggan terjalin sedemikian hangat, sehingga bisa dibilang coffee shop adalah perpanjangan dari rumah atau kantor, terlihat dari banyaknya orang yang datang ke coffee shop untuk mengerjakan pekerjaan kantor, bertemu teman atau sekedar duduk menikmati ‘me-time’.

Kembali ke Indonesia, saat menjadi GM (untuk beberapa villa dan hotel), saya melihat banyak hotel dan cafe yang menyajikan kopinya nggak baik, bahkan pelayanannya pun nggak oke. Belum lagi pilihan kopi yang mereka pakai masih mengunakan merek-merek luar negeri dan sudah bisa dipastikan tidak fresh lagi. (Biji kopi terbaik sebaiknya dikonsumsi dalam waktu maksimal 1 bulan setelah tanggal roasting biar rasanya masih melekat dan kualitasnya masih baik)

Dari situ saya berkesimpulan bahwa coffee shop yang keren membutuhkan”jiwa” yang dihidupkan oleh interaksi barista dengan pengunjung on a regular basis. Selain itu, pelayanan yang baik sangatlah penting. (Ngomong-ngomong, Juni lalu Whale and Co mendapat Certificate of Excellence loh dari TripAdvisor karena terus mendapat review yang baik dan skor yang tinggi dari pengunjungnya)

Setelah sekian lama mengumpulkan ide dan modal, akhirnya saya meninggalkan comfort zone untuk kemudian membuka Whale and Co, di mana tujuan utamanya adalah memajukan dan memperkenalkan  kopi Indonesia kepada tamu wisatawan domestik dan mancanegara, dan untuk mendukung pelaku bisnis UKM, di mana mereka bisa men-display produknya di Whale and Co.

I love their cozy ambience!

I love their cozy ambience!

3. Di mana Aryo belajar jadi barista dan berapa lama belajarnya?

Saya pernah ‘berguru’ dengan instruktur barista dari Speciality Coffee Association of Europe (SCAE), Nick Rozental. Di bawah bimbingan Nick selama 1 minggu dan masa ujian 2 hari, saya berhasil mendapatkan Barista License.

Setelah mendapatkan license, saya magang selama hampir 2 minggu (sambil menunggu Whale and Co selesai dibangun) di Tanamera, Jakarta, untuk belajar tentang seluk beluk pengelolaan coffee shop dan coffee roasting.

4. Buat yang belum tau, kasih dong bocoran apa sih bedanya cappuccino, latte dan jenis-jenis coffee drink maupun istilah lainnya?

Cappuccino: Biasanya disajikan dalam cup tulip atau bowl 180, dengan isi 1 shot espresso dan susu yang dipanaskan hingga terbentuk foam yang tingginya 1mm dari bibir cup.

Good Whale and Co cappuccino

Good Whale and Co cappuccino

Latte: Disajikan dalam gelas kaca tembus pandang, dengan susu yang dipanaskan (steamed) membentuk foam di bibir gelas dengan tinggi minimum 3mm. Disajikan dalam gelas 160mm.

Latte, anyone?

Latte, anyone?

Piccolo: Disajikan untuk orang yang sedang terburu-buru ceritanya. Mirip sekali dengan latte tapi dengan volume yang lebih sedikit susunya, 1 shot espresso dengan 90ml susu yang dipanaskan dan foam 3mm di bibir gelas seperti layaknya latte. Gelas yang dipakai ukuran sekitar 120-140ml.

Flat white: Istilah ini dipakai untuk latte yang banyak foam-nya. Foam hanya akan muncul maksimum 1mm dari bibir gelas. Flat white banyak digemari orang Australia dan New Zealand karena tidak banyak foam dan perbandingan susu dan espresso-nya seimbang.

Espresso (nggak pakai x ya): 1 shot dari kopi yang digiling dan diambil ekstraknya dalam waktu 20-25 detik untuk volume 30-36ml. Cocok untuk diminum sehabis lunch. Espresso adalah ujian barista yang sesungguhnya di mana dari biji kopi yang dipakai, rasa-rasa seperti orange, berries atau chocolate/nutty bisa muncul.

Single origin: Kopi yang berasal dari satu asal, bukan hasil racikan dari campuran biji kopi. Contohnya Flores Bajawa atau Aceh Gayo. Cocok dinikmati untuk espresso atau milk-based espresso seperti flat white, cappuccino, dan lain-lain.

House blend: Racikan dari 2- 3 biji kopi yang berbeda asal; biasanya dipakai sebagai espresso-based untuk semua milk-based espresso drink.

5. Kalau Aryo sendiri kopi favoritnya apa?

Tergantung suasana, hahaha. Biasanya espresso for after lunch, Piccolo for breakfast :) Untuk kopi Indonesia, saya suka Aceh Gayo dan Flores karena rasa mereka yang unik. Kalo untuk kopi impor, saya suka kopi Ethiopia.

6. Di Whale and Co, kopinya diambil dari mana?

Kami ambil dan roast dari salah satu roaster di Bali, di mana kita duduk dengan roaster tersebut untuk membuat house blend yang kami pakai sekarang, yang adalah racikan dari Aceh Gayo dan Flores dengan rasa yang nutty dan balance, baik sebagai espresso atau sebagai milk-based espresso drink.

 

Next time ke Bali, mampir ya ke Whale and Co! Adanya di Jl. Nakula. Gang Kresna, unit 3, Seminyak.

Leave a Reply