Apa Lagi Yang Ditunggu?

no Comment
Can you see the top? The very tip of the spire of Burj Khalifa can be seen from up to 95 km away, making it a wondrous sight for those flying in to Dubai. The total weight of aluminum used in building Burj Khalifa is equivalent to that of five A380 aircrafts and the total length of stainless steel bullnose fins is 293 times the height of the Eiffel Tower.

Can you see the top? The very tip of the spire of Burj Khalifa can be seen from up to 95 km away, making it a wondrous sight for those flying in to Dubai.
The total weight of aluminum used in building Burj Khalifa is equivalent to that of five A380 aircrafts and the total length of stainless steel bullnose fins is 293 times the height of the Eiffel Tower.

Saya menulis ini di ketinggian 35.000 feet, di perjalanan pulang menuju Jakarta dari Dubai. Bukan, bukan pulang dari liburan, melainkan pulang dari trip sebagai consultant dari Dubai Tourism Board, salah satu pekerjaan saya.

Kunjungan kemarin tentunya bukan kunjungan pertama saya ke Dubai. Cerita saya tentang Dubai sudah pernah saya tulis di sini, baca aja part 1, part 2 dan part 3, lengkap pokoknya 😀 Namun di kunjungan yang terakhir ini ada yang membuat saya tambah kagum dengan negara ini, yaitu bagaimana visi yang jelas dan leadership yang kuat bisa membuat sebuah negara menjadi sangat maju.

“Build it and the world will come”, itu yang dikatakan para pemimpin Dubai. Ini terbukti dengan jumlah turis mereka yang mencapai 14 juta orang per tahun (saat ini sudah menduduki peringkat no. 4 di dunia) dari 20 juta orang per tahun yang menjadi targetnya.

Sepertinya kita juga bisa deh pakai motto itu. Apa lagi yang ditunggu? Umur pastinya nggak akan tambah muda. Jangan sampai ada terlalu banyak mimpi dan keinginan yang kita pendam dan nggak kita jalani cuma gara-gara alasan “belum ada waktu yang tepat”, “belum siap”, “belum ada modal”, “belum sempat” dan belum belum lainnya.

Mungkin itu juga yang terjadi dengan Indonesia. Sebagai negara yang jauh lebih diberkati dengan kekayaan alam dan jumlah penduduk yang lebih banyak dibanding Dubai, kita jauh sekali tertinggal. FYI, Dubai itu dulunya miskin sekali, Saking miskinnya, nggak ada yang mau menjajah dan sampai saat ini tanahnya tidak bisa ditanami apa-apa. Semua makanannya harus diimpor, jumlah penduduk asli hanya 20% . Delapan puluh persennya adalah pendatang/expat dan pariwisata adalah salah satu pemasok pendapatan negara yang terbesar.

Mungkin memang ini saatnya kita harus berubah. When you have a dream, you work on it and make it come true. Don’t wait.

Leave a Reply