5 Tips Agar Asisten Rumah Tangga Betah

no Comment

Female hand cleaning dining table

Tulisan ini terinspirasi dari peringatan tulisan Ligwina Hananto di minggu mudik Lebaran yang lalu. Menurut saya ini topik yang sangat relevan buat kita yang tinggal di kota besar, salah satunya karena rata-rata pasangan jaman sekarang sama-sama bekerja, jadi yang namanya punya asisten rumah tangga atau staff di rumah sangatlah lumrah.

Kebetulan saya punya staff rumah tangga yang sudah bersama saya cukup lama. Berikut tips-nya biar mereka betah*:

1. Perhatikan jam kerja

Bukan berarti dengan adanya si mbak yang tinggal di rumah, ia jadi kerja 24 jam, alias dari pagi sampai baru boleh tidur kalau kita sudah tidur. Atau kadang buat yang punya anak, harus ngikutin jam aktivitas si anak. Penting untuk kita sadar bahwa saat semua pekerjaan penting sudah selesai, si mbak juga butuh istirahat, dan itu saatnya kita menikmati rumah sendiri aja (atau berdua kalau ada pasangan). Buat yang punya anak, ini bisa banget jadi bonding time, jadi biarkan deh ‘ncus’-nya istirahat.

2. Gaji yang sesuai dan wajar

Pastinya gaji setiap daerah berbeda. Beda komplek aja beda standartnya. Coba liat lagi area sekitar standartnya berapa. Jangan lupa untuk menaikan gaji setiap tahun. Prosentasenya bisa dilihat dari kenaikan UMR di kota masing-masing.

3. THR dan bonus

Ini harus, ya. THR harus ada setiap tahun dan nggak boleh ditawar. Untuk bonus, jumlahnya dan alasannya bisa macam-macam. Misalnya, minta tolong pijetin. Kalau panggil mbok dari luar bayar Rp150.000, nah kalau staff rumah memang mijetnya enak banget, ya kasih dong tip Rp100.000. Masuk akal, kan? Atau misalnya si mbak bantuin bikin kue untuk kita jual, yang artinya ini di luar pekerjaan dia yang sebenarnya hanya membersihkan rumah, kasih bonus bantuin bikin kue, dan ini bisa ikut kita hitung saat mengkalkulasi harga jual kuenya.

4. Jatah cuti

Buat saya, nggak manusiawi nyuruh orang kerja 7 hari non-stop. Tapi kalau ternyata staff rumah nggak suka jalan-jalan pas weekend, bisa diganti dengan ngasih ijin pulang setiap 3 bulan kalau mau jenguk anaknya, misalnya. Dan ini di luar jatah cuti lebaran yang 12 hari itu.

5. Kesejahteraan

Hal ini menyangkut hal-hal seperti makannya mereka (jangan sampai mereka cuma makan nasi dan garam aja tiap hari atau sisa dari makanan majikannya), kesehatan (bagaimana kalau mereka sakit, tanggung jawab kita sampai mana?) dan kenyamanan tinggal (kasur, seprai dan handuk yang bersih; jaman sekarang malah dikasih TV biar mereka bebas nentuin acara yang mau ditontonnya sendiri).

Nggak susah sebenarnya untuk membuat staff rumah kita betah. Cukup dengan memperlakukan mereka secara manusiawi dan sering bayangkan kalau kita ada di posisi mereka, yang harus kerja di luar kota demi kirim uang buat keluarga. Dari sini, empati itu pasti ada.

 

*Tidak termasuk untuk kasus kalau tiba-tiba mau menikah, hamil, sakit atau harus jaga keluarga yang sakit di kampung, ya.

Leave a Reply