5 Curhat Utama Entrepreneur

no Comment

Sepertinya sudah lumayan lama ya saya nggak curcol di ReeSays soal kehidupan entrepreneur. Maklum, lagi ribet nih hihihi (entrepreneur kapan sih hidupnya nggak ribet, ya?). Sebentar lagi Ramadan dan Lebaran, jadi harus kejar setoran bisa bisa bayar THR karyawan. Yup, itulah salah satu ‘derita’ #baladaentrepreneur: di kala staff senang dapat THR, kita deg-degan dan berdoa semoga cukup. 😀

Mumpung sekarang lagi ada waktu curhat sebentar, saya mau list down 5 most famous curhatan pada entrepreneur karena percaya deh, permasalahan pebisnis baru biasanya itu-itu aja.

 

1. “Bete deh karena harus nombok pakai uang sendiri buat bayarin gaji staff tiap bulan.”

Kalau masalahnya ini, biasanya terjadi kalau kita rekrut orang terlalu cepat atau terlalu banyak. Kalau masih awal bisa dimulai dengan tidak pakai staff, ya kerjain aja semua prosesnya. Kalau tiba saatnya dapat banyak order dan nggak kepegang, baru deh rekrut staff pelan-pelan.

Kalau masih kepegang, sebisa mungkin semua dikerjain sendiri dulu, jadi kita nggak punya kewajiban untuk bayar orang.

Kalau masih kepegang, sebisa mungkin semua dikerjain sendiri dulu, jadi kita nggak punya kewajiban untuk bayar orang.

“Kalau saya sambil kerja, gimana?” Ya kalau gitu terima order atau ngerjain bisnisnya di waktu luang aja. Bisnisnya dibuat sebagai sambilan, bukan mata pencaharian utama.

Atau bisa juga cari partner dengan keahlian yang kita nggak punya. Daripada bayar staff, lebih baik buka kesempatan untuk partner.

 

2. “Jualan nggak ada peningkatan, jadi ragu harus produksi lagi atau tidak. Yang ini aja masih banyak stoknya, belum laku-laku.”

Memang kalau berjualan harus punya nyali dagang. Memang serba salah kadang, saya ngerti. Tapi kalau kita tidak ada barang baru atau inovasi baru, pelanggan bisa bosan dan akhirnya nggak belanja lagi.

“Trus gimana dong dengan stok yang ada?” Di sini coba kita atur untuk kuantitas produksi berikutnya. Jangan sebanyak yang dulu, tapi yang penting ada barang baru.

Mengatur kuantitas produksi penting banget biar masalah yang sama, kelebihan stok, nggak terulang.

Mengatur kuantitas produksi penting banget biar masalah yang sama, kelebihan stok, nggak terulang.

 

3. “Saya nggak punya budget promosi yang besar-besaran seperti competitor.”

Sebel ya, tapi gimana dong? Tetap saja harus keluar biaya untuk promosi. Kita kan nggak bisa jualan ke teman-teman kita aja, nanti lama-lama di-unfriend loh 😀 Yang bisa dilakukan adalah menyisihkan sekitar 10% dari total jualan untuk uang bayar iklan. Cari tempat promosi yang sesuai dengan target market kita.

Ini dia kunci biar bisnis survive, terutama buat bisnis yang baru mulai: semuanya harus cost effective, termasuk urusan promosi.

Ini dia kunci biar bisnis survive, terutama buat bisnis yang baru mulai: semuanya harus cost effective, termasuk urusan promosi.

 

4. “Modal sudah mulai habis tapi penjualan belum nutup untuk biaya operasional.”

Nah, ini biasanya harus buang ego dan lihat lagi bagian apa dari total biaya operasi yang paling makan budget.

Coba cek lagi, apa sih yang bikin kita tekor?

Coba cek lagi, apa sih yang bikin kita tekor?

Apakah itu bisa ditukar atau diganti dengan yang lebih murah?

Apakah salah penghitungan antara biaya dan harga jual?

Apakah ada competitor yang jual barang yang sama dengan harga yang lebih murah?

Atau kurang promosi?

Atau apalagi? Segera audit bagian mana yang nggak pas di situasi itu.

 

5. “Belum bisa gajian tapi tabungan udah tipis. Apa harus balik kerja lagi aja?”

Dilema abadi entrepreneur di saat lagi susah: balik kantoran lagi – jangan – balik lagi – jangan.

Dilema abadi entrepreneur di saat lagi susah: balik kantoran lagi – jangan – balik lagi – jangan.

Ini memang paling jleb sih, tapi ya nggak usah gengsi juga. Kalau memang nggak jalan, jangan pernah malu untuk berhenti, supaya bisa berpikir dengan jernih juga dan tahu kita mau apa. Kembali lagi, kalau cuma mau cari uang, menjadi entrepreneur itu bukan jawabannya (hilang uang mah sudah pasti). Jadi kenapa masih mau bertahan? You better know the right answer. Yang jelas jangan cuma karena gengsi.

 

Jalan setiap orang memulai usaha itu beda-beda. Ada yang cepat banget dapat untungnya alias balik modalnya, ada yang bertahun-tahun baru balik modal, tapi ada juga yang gagal. Jadi jangan pernah bandingkan kesuksesan bisnis orang lain dengan kita, tapi buat itu sebagai pecutan semangat dan bisa belajar dari bisnis dari mereka. What did they do wrong? What did they do right? Jangan lupa kalau entrepreneurship is a never-ending learning.

coke copy

Leave a Reply